Satu Kartu untuk Semua Transaksi

Akhir-akhir ini kita sangat akrab dengan yang namanya kartu. Saat apply kartu kredit baru, kita diberikan kartu baru. Jika kita  rutin terbang, biasanya kita memiliki kartu keanggotaan pelanggan maskapai. Jika kita pengguna jalan toll, biasanya kita juga memiliki kartu khusus. Kartu, kartu, dan kartu. Apabila kita memiliki lima rekening tabungan di bank yang berbeda, memiliki sepuluh kartu kredit, rutin menggunakan jasa maskapai penerbangan, sehari-hari mengendarai mobil lewat toll, dan rutin berbelanja di department store dan super market, maka dompet kita akan berisi tumpukan kartu. Terasa sangat aneh apabila di zaman yang serba ringkas seperti saat ini dimana peran cetakan kertas telah banyak dikonversi ke wujud digital, kita masih saja dijejali dengan kartu-kartu fisik yang secara prinsip memiliki cara kerja yang sama. Jika satu kartu memiliki ketebalan satu mm dan kita memiliki 20 kartu, dompet kita paling tidak akan memiliki  ketebalan 2 cm di luar uang cash. Selain tebal, banyaknya kartu tersebut juga sangat tidak praktis, tidak efisien, berat, riskan hilang, tercecer, dicuri, dan lain sebagainya.  So, apakah tidak ada cara yang lebih praktis untuk urusan kartu ini?

Continue Reading

Cara Lain Pemanfaatan Teknologi Untuk Mengatasi Kemacetan

Kemacetan merupakan salah satu masalah utama yang rutin ditemui oleh pengendara jalan raya, khususnya di daerah-daerah padat seperti Jakarta. Selain tidak efisien, macet juga berdampak pada pemborosan biaya, energi, dan emosi yang sangat besar. Beberapa cara telah dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Dari segi infrastruktur, pembangunan ruas-ruas jalan baru telah dilakukan. Dari segi moda transportasi, upaya untuk menambah jumlah armada dan menambah jenis transportasi umum juga telah dilakukan. Dari segi kebijakan, ide untuk mengatur lalu lintas berbasis plat nomor genap ganjil baru saja diterapkan. Personel pengatur lalu lintas baik yang sifatnya resmi maupun “non resmi” juga sering kita temukan untuk membantu mengurasi kemacetan.

Namun, meskipun beberapa langkah telah dilakukan, saat ini kemacetan masih tetap saja terjadi. Dari hari ke hari frekuensi kemacetan justru dirasakan semakin parah bahkan terdapat anggapan bahwa kemacetan merupakan masalah yang tidak mungkin terselesaikan. Data pada tahun 2013 menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sudah mencapai 16.072.869 unit. Jika seluruh kendaraan ini disusun, maka panjang jalan di Jakarta yang hanya 6.956.842,26 Meter tidak akan mencukupi. Mengacu kepada kondisi bahwa ke depan pertumbuhan kendaraan bermotor tetap akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan sarana dan prasarana transportasi, saat ini  diperlukan cara-cara baru untuk membantu mengatasi permasalahan kemacetan ini. Bagaimana contohnya?.

Continue Reading