Cara Lain Pemanfaatan Teknologi Untuk Mengatasi Kemacetan

Kemacetan merupakan salah satu masalah utama yang rutin ditemui oleh pengendara jalan raya, khususnya di daerah-daerah padat seperti Jakarta. Selain tidak efisien, macet juga berdampak pada pemborosan biaya, energi, dan emosi yang sangat besar. Beberapa cara telah dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Dari segi infrastruktur, pembangunan ruas-ruas jalan baru telah dilakukan. Dari segi moda transportasi, upaya untuk menambah jumlah armada dan menambah jenis transportasi umum juga telah dilakukan. Dari segi kebijakan, ide untuk mengatur lalu lintas berbasis plat nomor genap ganjil baru saja diterapkan. Personel pengatur lalu lintas baik yang sifatnya resmi maupun “non resmi” juga sering kita temukan untuk membantu mengurasi kemacetan.

Namun, meskipun beberapa langkah telah dilakukan, saat ini kemacetan masih tetap saja terjadi. Dari hari ke hari frekuensi kemacetan justru dirasakan semakin parah bahkan terdapat anggapan bahwa kemacetan merupakan masalah yang tidak mungkin terselesaikan. Data pada tahun 2013 menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sudah mencapai 16.072.869 unit. Jika seluruh kendaraan ini disusun, maka panjang jalan di Jakarta yang hanya 6.956.842,26 Meter tidak akan mencukupi. Mengacu kepada kondisi bahwa ke depan pertumbuhan kendaraan bermotor tetap akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan sarana dan prasarana transportasi, saat ini  diperlukan cara-cara baru untuk membantu mengatasi permasalahan kemacetan ini. Bagaimana contohnya?.

Dari sisi pengguna jalan raya, dewasa ini kita telah melihat bagaimana beberapa aplikasi berbasis teknologi dimanfaatkan untuk memperoleh rute terbaik. Sebagai contoh, aplikasi Waze dan dimanfaatkan untuk menunjukkan arah dan memandu pengendara menemukan tempat tujuan dengan algoritma menghindari atau meminimalkan kemacetan. Yang spesial, aplikasi tersebut bersifat dinamis. Ketika di tengah perjalanan aplikasi menemukan kondisi yang berbeda dari kondisi awal ketika pemilihan rute diinisiasi, aplikasi dapat langsung menyesuaikan. Aplikasi akan menawarkan rute baru yang lebih baik  jika tiba-tibe rute awal yang direkomendasikan terdapat kemacetan. Suggestion yang bersifat dinamis ke pengguna jalan raya ini sangat membantu. Selain Waze, kita juga mengenal beberapa situs web yang menunjukkan tingkat kemacetan beberapa jalan raya. Pada umumnya, jalanan yang tengah dihinggapi kemacetan diberikan tanda tertentu seperti warna merah dan lain sebagainya. Flagging tersebut sangat membantu pengendara untuk menentukan rute yang akan diambil sebelum menempuh perjalanan. Manfaat positif dari aplikasi teknologi ini perlu ditularkan pada komponen lain yang terdapat pada sistem transportasi.

Salah satu potensi pemanfaatan teknologi pada komponen lain dari sistem transportasi terletak pada alat pemberi isyarat lalu lintas. Menurut UU no. 22/2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas adalah lampu yang mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan tempat penyeberangan pejalan kaki, dan tempat arus lalu lintas lainnya. Lampu ini yang menandakan kapan kendaraan harus berjalan dan berhenti secara bergantian dari berbagai arah. Pengaturan lalu lintas di persimpangan jalan dimaksudkan untuk mengatur pergerakan kendaraan pada masing-masing kelompok pergerakan kendaraan agar dapat bergerak secara bergantian sehingga tidak saling mengganggu antar-arus yang ada (Wikipedia, 2016). Saat ini, hampir sebagian besar alat pemberi isyarat masih diatur secara fixed.

Jika kita mengendarai kendaraan di kisaran ibu kota atau kota-kota dengan tingkat kepadataan lalu lintas yang tinggi, kita pasti sering menemukan kondisi lalu lintas dimana satu sisi jalan raya sangat padat sedangkan sisi lain dari jalan kosong. Sebagai contoh, pada Gambar berikut kepadatan terjadi pada sisi jalan B, sedangkan sisi jalan A, C, dan D relatif kosong.

Kondisi sebagaimana yang terdapat pada ilustrasi tersebut terjadi biasanya semakin parah dari waktu ke waktu apabila alat durasi waktu dari traffic light  telah ditetapkan secara fixed. Jika lampu hijau untuk ruas jalan A, B, C, dan D sama-sama dialokasikan 1 menit, maka pengguna di ruas jalan B harus menunggu kurang lebih 3 menit agar mendapatkan izin jalan. Jika ruas A, C, dan D tidak padat, pengguna jalan di sisi B akan banyak membuang waktu. Hal tersebut dapat berdampak panjang karena kemacetan di jalan B biasanya akan semakin panjang ke belakang dari waktu ke waktu.

Apabila pola kepadatan di jalan B dan kosongnya pengguna jalan di ruas A, C, dan D tersebut telah terjadi beberapa kali, biasanya pengatur lalu lintas telah mengubah konfigurasi traffic light dengan mengalokasikan waktu hijau lebih lama pada jalan B. Meskipun pengaturan ini cukup membantu, kita tidak dapat melupakan bahwa kemacetan atau kepadatan utilisasi jalan merupakan sesuai yang dinamis. Pada suatu ketika, karena adanya truk yang mengalami pecah ban, ruas jalan yang macet justru terjadi dapat terjadi pada sisi jalan C, sedangkan sisi jalan A, B, dan D normal. Kemacetan pada sisi jalan C terjadi 3 KM di belakang traffic light yang terdapat pada ilustrasi. Karena sisi jalan C telah diatur sehingga lampu hijau-nya hanya berlangsung selama 1 menit, sedangkan sisi jalan B telah dialokasikan 2 menit, kembali kemacetan di sisi tersebut akan bertambah parah dari waktu ke waktu. Pengguna di sisi jalan C dalam hal ini akan menunggu sesuatu yang tidak efisien. Dalam kondisi seperti ini, apabila pada perempatan tersebut terdapat pengatur lalu lintas yang diberikan informasi mengenai keadaan yang terjadi, pengatur lalu lintas biasanya akan melakukan override dari kerja traffic light dan memberikan durasi jalan yang lebih lama untuk sisi jalan C. Namun, karena kita tahu bahwa rasio jumlah pengatur lalu lintas dibandingkan jumlah ruas jalan tidak mencukupi, kita sering menemukan kondisi tidak adanya pengatur lalu lintas di tengah-tengah kondisi seperti ini.

Sebagaimana aplikasinya pada pengguna jalan raya, teknologi dalam hal ini dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi keadaan seperti ini. Apabila aplikasi semacam Waze dapat menangkap citra satelit untuk menemukan rute terbaik, konsep yang kurang lebih sama dapat dimanfaatkan untuk menangkap kondisi kemacetan setiap ruas jalan raya untuk kemudian dijadikan input bagi traffic light. Konsep yang dimaksud sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang baru. Pada bidang transportasi, konsep tersebut dinamakan sebagai actuated traffic signal dimana lampu lalu lintas pengoperasiannya dilakukan dengan pengaturan waktu tertentu dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan kedatangan kendaraan dari berbagai persimpangan.

Sistem pengaturan durasi waktu lampu hijau, kuning, dan merah secara otomatis dan dinamis berdasarkan sinyal kepadatan kendaraan yang ditangkap dari citra satelit dapat dipakai jika arus kendaraan sangat bervariasi sepanjang hari. Sistem ini bersifat responsif terhadap kebutuhan atau kondisi lalu-lintas.  Dengan merujuk ke ilustrasi persimpangan A, B, C, D yang terdapat pada gambar sebelumnya, apabila pada suatu waktu ruas jalan yang macet adalah sisi B sedangkan sisi yang lain tidak terlalu padat, maka lampu hijau pada sisi jalan B dapat diberikan durasi lebih lama. Hal tersebut diindikasi akan sangat membantu mengurangi kemacetan. Pada konsep ini, lampu lalu lintas berfungsi sebagai load balancer.

Jika berkaca pada implementasi aplikasi semacam Waze dan Google Maps pada sisi pengguna jalan raya, implementasi dari konsep dynamic traffic signal sebenarnya cukup mudah untuk diterapkan. Pengaturan durasi lampu yang bersifat dinamis dalam hal ini bergantung dari detector kepadatan jalan. Detector dapat diletakkan di bawah permukaan jalan, di tiang lalu lintas, maupun melalui citra satelit sebagaimana aplikasi penentuan rute terbaik yang telah banyak dimanfaatkan.

tsc_img1

atms_auto_intellect_small

Meskipun menguntungkan, dynamic traffic signal tidak harus dipasang pada setiap persimpangan. Teknologi ini cocok diterapkan untuk persimpangan yang demand per sisi jalannya sangat bervariasi. Selain itu, teknologi ini juga cocok diterapkan untuk sisi jalan yang apabila macet akan berimbas pada macet-macet di lokasi yang lain. Untuk lokasi-lokasi yang tidak terlalu macet atau pola kemacetannya cenderung tetap dari waktu ke waktu, konsep traffic signal konservatif secara fixed masih dapat diterapkan untuk menghemat biaya.

Dengan mempertimbangkan bahwa pertumbuhan infrastruktur jalan raya dalam waktu dekat belum dapat memenuhi pertumbuhan jumlah kendaraan dan masih terbatasnya jumlah pengatur jalan raya, maka saat ini implementasi dari dynamic traffic signal diindikasi akan sangat membantu.  Sangat sering kita melihat kemacetan parah dan panjang yang disebabkan hanya karena terlalu lama menunggu lampu hijau padahal di sisi jalan yang lain tidak terdapat kemacetan. Jika traffic light telah “lebih pintar” dalam membaca situasi jalanan, kondisi kemacetan yang disebabkan oleh tidak optimalnya pengaturan Stop and Go pada persimpangan diharapkan dapat diminimalkan.

~ Irfani

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.