Peran Time Horizon dalam Investasi Saham

Investor fundamental berpegang pada prinsip bahwa kinerja perusahaan akan berbanding lurus dengan pergerakan harga sahamnya. Perusahaan yang memiliki kinerja baik pergerakan harga sahamnya diasumsikan akan positif. Di sisi lain, perusahaan yang tidak berkinerja bagus diasumsikan harga sahamnya akan turun. Berbasis pada hal ini, para investor fundamental membeli saham ketika yakin bahwa ke depan kinerja perusahaan akan meningkat. Meskipun terkesan sederhana, implementasi strategi pembelian saham berbasis aspek fundamental ternyata tidak mudah. Beberapa pemain saham sering mengalami kerugian meskipun saham yang dibeli adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja fenomenal. Hal tersebut mengindikasikan bahwa berinvestasi pada saham-saham yang memiliki kinerja baik tetap memerlukan perlakuan khusus. Dalam hal ini, salah satu komponen penting yang tidak boleh terlewatkan dalam menganalisis saham secara fundamental adalah time horizon. Bagaimanakah peran dari time horizon dalam berinvestasi saham? 

Kinerja fundamental perusahaan dapat diukur dengan beberapa measures seperti profitability, growth,  valuasi, operating performances, dan lain sebagainya. Dari banyak indikator yang ada, dua indikator  sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah adalah pertumbuhan revenue dan net income.  Perusahaan dapat dikatakan memiliki kinerja fundamental yang baik apabila memiliki pertumbuhan revenue dan net income yang baik. Kriteria baik dalam hal ini dapat dibandingkan dengan kinerja perusahaan sejenis atau kinerja perusahaan sendiri di masa lampau.

Karena akses untuk mengetahui revenue dan net income secara harian atau mingguan secara langsung bersifat terbatas, investor retail dapat menggunakan laporan income statement yang dipublikasikan setiap kuartal (unaudited) dan tahunan (audited) untuk memantau pertimbuhan revenue dan net income. Pertumbuhan dapat dihitung dengan membagi angka revenue atau net income pada tahun/kuartal terakhir dengan angka revenue atau net income pada tahun sebelumnya. Contoh sederhana  pertumbuhan revenue dan net income yang diolah dari income statement tahunan PT. Astra International TBK (ASII) adalah sebagai berikut:

Capture
Gambar 1 – Pertumbuhan Revenue dan Net Income Tahunan ASII

 

Pada Gambar 1, dapat diketahui bahwa pada tahun 2016 revenue dari PT. Astra International mengalami penurunan sebesar -1.7%, dari yang sebelumnya Rp184 T menjadi Rp181 T. Dari sisi net income, PT. Astra International mengalami pertumbuhan sebesar 4.8% dari yang sebelumnya Rp14.4 T menjadi Rp15.1 T. Formula perhitungan pertumbuhan revenue dan net profit ini dapat diterapkan pada laporan interim.

Hubungan Jangka Panjang Antara Kinerja Fundamental Terhadap Harga Saham

Hubungan jangka panjang antara pertumbuhan revenue dan net profit terhadap pergerakan harga untuk beberapa perusahaan  pada sektor yang berbeda di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) – Big Cap Banking
Screen Shot 2017-03-26 at 11.36.07
Gambar 2 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham BBRI Periode 10 Tahun

Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bahwa  pada rentang waktu tahun 2007 – 2016 BBRI mengalami pertumbuhan revenue dan net income yang konsisten. Pada periode tersebut, secara umum harga saham BBRI juga mengalami trend meningkat. Dalam rentang waktu 10 tahun, pergerakan harga saham BBRI selaras dengan pertumbuhan kinerja perusahaan.

  • Telekomunikasi Indonesia (TLKM) – Big Cap Infrastruktur
Screen Shot 2017-03-26 at 12.39.14
Gambar 3 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham TLKM Periode 10 Tahun

Gambar 3 yang berisi grafik pertumbuhan revenue, net income, dan harga saham TLKM pada periode 10 tahun dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama mulai dari tahun 2007 sampai dengan 2011 dan bagian  kedua mulai dari 2012 sampai dengan 2016. Pada periode pertama, revenue dari TLKM meningkat dengan pertumbuhan kecil namun net income tersebut turun. Pada periode tersebut, harga saham dari TLKM secara umum juga melandai cenderung turun. Pada periode tahun 2012 sampai dengan 2016, revenue dan net profit dari TLKM mengamali peningkatan secara konsisten. Harga saham pada periode tersebut juga terapresiasi mengikuti pertumbuhan revenue dan net income. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang pegerakan harga saham akan mengikuti kinerja perusahaan.

  • Univeler Indonesia (UNVR) – Big Cap Consumer
Screen Shot 2017-03-26 at 12.49.51
Gambar 4 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham UNVR Periode 10 Tahun

Secara umum, pola hubungan antara revenue, net income, dan pergerakan harga saham UNVR dalam periode 10 tahun mengikuti pola BBRI yang terdapat pada Gambar 2. Pada periode tersebut, revenue dan net income UNVR mengalami peningkatan yang konsisten. Peningkatan tersebut terefleksi pada harga saham yang secara umum ikut terapresiasi.

  • Wijaya Karya (WIKA) – Mid Cap Construction
Screen Shot 2017-03-26 at 12.57.11
Gambar 5 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham WIKA Periode 10 Tahun

Pola hubungan antara pertumbuhan revenue, net income, dan pergerakan harga saham WIKA yang merupakan perusahaan dengan kapitalisasi menengah pada BEI dapat dilihat pada Gambar 5. Pada periode tahun 2008 – 2011, secara umum pertumbuhan revenue dan net income dari perusahaan tersebut stagnan. Hal tersebut diikuti oleh harga saham yang relatif datar. Pada periode 2009 – 2016, WIKA mengalami pertumbuhan revenue dan net income yang konsisten. Harga saham WIKA pada periode tersebut tumbuh mengikuti kinerja fundamental perusahaan.

  • Aneka Tambang (ANTM) – Mid Cap Mining
Screen Shot 2017-03-26 at 13.06.48
Gambar 6 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham ANTM Periode 20 Tahun

Gambar 6 berisi grafik pertumbuhan revenue, net income, dan harga saham ANTM yang merupakan perusahaan mid cap pada sektor tambang. Pada periode tahun 1998 – 2008, secara umum ANTM mengalami pertumbuhan revenue dan net income. Pada periode tersebut, harga saham ANTM terapresiasi hingga mencapai puncaknya mendekati Rp4000 per lembar pada tahun 2008. Kondisi yang berbeda ditemukan pada periode tahun 2008 sampai dengan 2016 dimana secara umum revenue ANTM tidak lagi tumbuh. Pada periode tersebut, net profit dari ANTM cenderung turun hingga mengalami kerugian pada tahun 2014 dan 2015. Harga saham pada periode kedua ini mengikuti pola pertumbuhan revenue dan net income, sehingga terdepresiasi menjadi di bawah Rp1000 rupiah per lembar.

Berdasarkan pola pada saham BBRI, TLKM, UNVR, WIKA, dan ANTM, dapat diketahui bahwa secara umum dalam jangka panjang pertumbuhan revenue dan net income selaras dengan pergerakan harga sahamnya. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan kinerja fundamental harga sahamnya akan terapresiasi. Sebaliknya, perusahaan yang kinerja fundamentalnya turun harga sahamnya juga terdepresiasi.

Hubungan Jangka Pendek Antara Kinerja Fundamental Terhadap Harga Saham

Setelah gambaran mengenai hubungan antara revenue, net income, dan pergerakan harga saham untuk jangka panjang (≥10 tahun) berhasil diketahui, analisis dilanjutkan untuk mengetahui pola hubungan antara ketiga variabel tersebut untuk jangka pendek. Analisis hubungan dalam jangka pendek dilakukan berdasarkan laporan income statement kuartalan dan pergerakan harga saham harian dalam periode 3 tahun. Berikut merupakan hubungan ketiga variabel tersebut:

  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) – Big Cap Banking
Screen Shot 2017-03-26 at 19.13.21
Gambar 7 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham BBRI Periode 3 Tahun

Pada periode Jan – Mar 2015, revenuenet income, dan harga saham BBRI lebih tinggi dari revenue, net income, dan harga sahamnnya pada periode yang sama tahun sebelumnya (Jan – Mar 2014). Pada periode tersebut hubungan antara revenue dan net income terhadap harga saham selaras.

Kondisi yang berbeda ditemukan pada periode Jul – Sep 2015. Meskipun pada periode tersebut revenue dan net income BBRI lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga saham BBRI secara umum lebih rendah dari harga sahamnya pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hubungan tersebut berlanjut sampai dengan Juni 2016. Pada rentang tersebut, revenue dan net income dari BBRI lebih tinggi dari revenue dan net income-nya pada tahun sebelumnya. Meskipun demikian, harga saham BBRI pada periode tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan harga sahamnya pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan kondisi yang ada, dapat diketahui bahwa dalam jangka pendek pola hubungan antara pertumbuhan revenue dan net profit terhadap harga saham BBRI cenderung tidak menentu.

  • Wijaya Karya (WIKA) – Mid Cap Construction
Screen Shot 2017-03-26 at 19.35.51
Gambar 8 – Revenue, Net Income, dan Harga Saham WIKA Periode 3 Tahun

Revenue dan net income WIKA pada periode Jan – Jun 2015 secara umum lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode Jan – Jun 2014. Meskipun demikian, harga saham pada periode tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada periode yang sama tahun berkutnya. Pada periode Juli – Des 2015, revenue dan net income WIKA secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, pada periode tersebut harga saham WIKA justru lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tidak selarasnya hubungan antara revenue dan net income terhadap harga saham berlanjut pada periode Jan – Jun tahun 2016. Pada periode tersebut secara umum kinerja fundamental WIKA lebih baik dari tahun sebelumnya namun harga sahamnya lebih rendah.

Berdasarkan pola yang ada dapat diketahui bahwa hubungan antara pertumbuhan revenue dan net income terhadap  harga saham dalam jangka pendek cenderung kurang jelas.

Bottom Line

Meskipun sample yang digunakan pada tulisan ini sangat kecil dan belum merepresentasikan seluruh saham yang ada di Bursa Efek Indonesia, namun dapat diperoleh gambaran bahwa dalam jangka panjang (≥10 tahun), pergerakan harga saham bersifat selaras dengan kinerja fundamental dari suatu perusahaan yang dalam hal ini diukur dengan indikator pertumbuhan revenue dan net income. Perusahaan yang mencatat pertumbuhan revenue dan net income secara konsisten  secara umum harga sahamnya ikut terapresiasi. Di sisi lain, ketika kinerja fundamental dari suatu perusahaan tidak dalam trend bagus, harga sahamnya biasanya ikut terdepresiasi.

Kondisi yang berbeda tidak ditemukan pada time horizon yang lebih pendek. Dengan menggunakan data laporan interim kuartalan pada periode kurang dari 3 tahun, dapat diketahui bahwa  perusahaan yang mengalami peningkatan revenue dan net income secara year-over-year harga sahamnya tidak secara  otomatis akan langsung ikut naik. Sebaliknya, harga saham dari perusahaan yang mengalami penurunan revenue dan net income juga tidak secara otomatis langsung turun. Pada periode yang lebih pendek, hubungan antara pertumbuhan revenue dan net income terhadap harga saham cenderung tidak pasti.

Perbedaan pola hubungan antara pertumbuhan revenue, net income, dan harga saham pada rentang jangka panjang dan jangka pendek tersebut perlu dipahami oleh investor saham. Naik turunnya kinerja perusahaan dalam jangka pendek merupakan suatu hal yang umum terjadi. Perusahaan yang bagus bukan lah perusahaan yang senantiasa mengalami peningkatan kinerja fundamental dari kuartal satu ke kuartal yang lain. Perusahaan yang bagus dalam hal ini adalah perusahaan yang secara konsisten dapat meningkatkan kinerja fundamentalnya dalam jangka panjang. Ketika terdapat perubahan pola terhadap kinerja perusahaan, pasar memerlukan waktu untuk mencerna, khususnya untuk mengidentifikasi apakah penyimpangan atau perubahan kinerja fundamental dari suatu perusahaan tersebut merupakan sesuatu yang mendasar yang akan berpengaruh terhadap kinerja jangka panjang atau hanya noise yang umum terjadi. Apabila mayoritas pelaku pasar menganggap bahwa perubahan kinerja fundamental tersebut bersifat sementara, pola hubungan antara revenue, net income dan harga saham dapat tidak selaras dalam jangka pendek. Namun, apabila mayoritas pelaku pasar memiliki persepsi bahwa perubahan kinerja fundamental yang ada bersifat mendasar, harga saham biasanya akan menyesuaikan dengan pola fundamental yang baru. Selain itu, karena pasar saham melibatkan investor dan lembar saham yang berjumlah sangat banyak, pergerakan harga saham dalam mengikuti kinerja fundamental ketika terjadi situasi turnaround saham juga memerlukan waktu. Waktu yang diperlukan oleh pelaku pasar untuk mencerna apakah perubahan kinerja perusahaan tersebut bersifat mendasar atau tidak dan waktu yang diperlukan oleh pelaku pasar untuk bereaksi terhadap perubahan kinerja fundamental perusahaan itu lah yang biasanya menyebabkan pola pertumbuhan revenue, net income, dan harga saham dalam jangka pendek bersifat tidak menentu.

Berdasarkan hal-hal yang ada, dapat diketahui bahwa investor fundamental dalam bidang saham sebaiknya fokus pada time horizon yang lebar. Dalam jangka panjang, pergerakan harga saham cenderung selaras dengan kinerja fundamental perusahaan. Dalam hal ini, analisis fundamental perusahaan yang mendalam seperti aspek profitability, liquidity, debt, operating performances, dan lain sebagainya  dapat efektif digunakan untuk mengidentifikasi potensi arah kinerja perusahaan dan harga saham dalam jangka panjang ke depan. Karena kinerja fundamental perusahaan sulit untuk diukur dan dibandingkan pada rentang bulanan, mingguan, harian, apalagi jam-jaman, maka keputusan aksi seorang investor fundamental seharusnya tidak didasarkan pada pergerakan harga saham  bulanan, mingguan, harian, apalagi day trade. Keputusan aksi investor fundamental dalam hal ini harus didasarkan pada analisis yang mendalam, apakah kinerja perusahaan dalam jangka panjang akan berubah atau mengikuti pola yang telah ada.

You may also like

2 Comments

    1. Saya kombinasinya kang… ada account buat investasi (based on fundamental) dan ada account yang buat trading (based on teknikal)… terima kasih udah mampir Kang Robby… sukses selalu juga… hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.