Pembangunan Infrastruktur Terlihat, Mengapa Harga Sahamnya Justru Turun?

Pembangunan infrastruktur dalam beberapa waktu kebelakang memang terlihat agresif. Di ibukota dan kota-kota besar sekitarnya, pembangunan jalan tol, LRT, dan MRT terlihat ada di mana-mana hingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Jika ditarik logika sederhana, aktivitas pembangunan yang masif ini tentu akan berdampak positif terhadap kinerja dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, seperti Wijaya Karya, Waskita Karya, Adhi Karya, dan Pembangunan Perumahan. Banyak investor di pasar modal yang mengantisipasi potensi kenaikan kinerja dari perusahaan-perusahaan konstruksi dengan membeli saham perusahaan-perusahaan tersebut.

Meskipun demikian, kondisi yang ada ternyata menunjukkan fakta sebaliknya. Dalam beberapa tahun ke belakang, harga saham dari perusahaan-perusahaan konstruksi ternyata justru jatuh cukup dalam. Pada dua tahun terakhir, harga saham Wijaya Karya, Adhi Karya, Pembangunan Perumahan tercatat masing-masing telah turun sebesar -47%, -46%, -56%, dan -31%. Hal tersebut tentu bertolak belakang dengan apa yang kita lihat dimana pembangunan ada di mana-mana. Faktor apa yang berpotensi menjadi penyebab dari fenomena tersebut?

Analisis mengenai faktor yang menjadi penyebab dari turunnya kinerja saham dari perusahaan-perusahaan konstruksi dapat dilakukan dari perspektif yang beraneka ragam karena harga saham di pasar dipengaruhi oleh sangat banyak faktor, mulai dari aspek fundamental, supply/demand, sentimen pelaku pasar, dan lain sebagainya. Tulisan ini ditujukan untuk menganalisis beberapa faktor dari aspek fundamental yang berpotensi menyebabkan turunnya harga saham perusahaan-perusahaan konstruksi dalam beberapa tahun terakhir.

Faktor pertama yang berpotensi menyebabkan turunnya harga saham perusahaan-perusahaan konstruksi seperti WIKA, ADHI, PTPP, dan WSKT terletak pada aspek Coverage. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur Coverage dalam hal ini adalah Free Cash Flow per Debt. Free Cash Flow per Debt menunjukkan seberapa cepat perusahaan dapat membayar hutang yang dimilikinya dengan menggunakan Free Cash dari aktivitas operasi. Yang menjadi permasalahan, WIKA, ADHI, PTPP, dan WSKT semuanya saat ini memiliki nilai Free Cash Flow per Debt negatif. Negatifnya indikator tersebut dalam hal ini disebabkan oleh nilai dari Free Cash Flow yang negatif. Sebagaimana diketahui, Free Cash Flow merupakan Cash Flow yang diperoleh dari aktivitas operasi dikurangi dengan cash yang dikeluarkan untuk aktivitas investasi (CAPEX). Free Cash Flow yang negatif memang tidak selalu menjadi tanda buruk. Dalam beberapa hal,  Free Cash Flow negatif dapat disebabkan karena perusahaan memang agresif dalam melakukan investasi. Berdasarkan hal tersebut, analisis mengenai potensi penyebab turunnya harga saham perusahaan-perusahaan konstruksi tidak hanya dapat dilakukan dari sisi cash flow, melainkan terhadap faktor yang lainnya.

Faktor kedua yang berpotensi menghambat kinerja saham dari perusahaan konstruksi terletak pada aspek liquidity.  Liquidity dapat diukur dengan beberapa indikator seperti Equity/Asset, Net Debt/Equity, dan lain sebagainya. Dari empat perusahaan konstruksi BUMN, saat ini WSKT memiliki aspek liquidity yang paling kurang baik. Pada saat tulisan ini dibuat, indikator Equity/Asset dari WSKT adalah sebesar 0.16. Hal tersebut kurang preferable karena sebagian besar porsi dari Asset ditopang dari hutang. Untuk mengetahui kondisi lebih dalam, analisis juga dilakukan dengan mencari data historis Bond Issuance dari perusahaan-perusahaan konstruksi. Berdasarkan data Bond Yearly Issuance, dapat diketahui bahwa perusahaan-perusahaan konstruksi akhir-akhir ini memang aktif dan agresif dalam menerbitkan Bond. Hal tersebut dapat dipahami karena pertumbuhan kontrak bisnis memang memerlukan tambahan dana dari luar. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan kontruksi terlihat memilih opsi pendanaan dengan menerbitkan Bond. History Bond Issuance untuk WSKT, WIKA, PTPP, dan ADHI masing-masing dapat dilihat pada Fig. 1 sampai Fig. 4.

Fig 1.Yearly Bond Issuance WSKT

 

Fig 2. Yearly Bond Issuance WIKA

 

Fig 3. Yearly Bond Issuance PTPP

 

Fig 4. Yearly Bond Issuance ADHI

 

Selain Coverage dan Liquiduty, dimensi Profitability dan Growth juga berpotensi menjadi penyebab dari sulit naiknya harga saham perusahaan-perusahana konstruksi sampai saat ini. Dari empat perusahaan konstruksi BUMN, WIKA dan ADHI menjadi dua perusahaan yang memiliki indikator dari aspek Profitability dan Growth yang kurang meyakinkan. Di tengah ekspansifnya aktivitas bisnis perusahaan tersebut, secara Trailing Twelve Months (TTM), WIKA tercatat memiliki Return on Tangible Capital dan Operating Margin masing-masing sebesar 5.5% dan 4.5%. Hampir mirip dengan WIKA, ADHI juga memiliki Return on Tangible Capital dan Operating Margin masing-masing sebesar 6.5% dan 4.5%. Dari sisi Growth, indikator Stabilized ROE Growth untuk WIKA dan ADHI tercatat kurang baik, yaitu sebesar -2.08 dan -1.68. Indikator tersebut dihitung berdasarkan pertumbuhan ROE untuk tahun fiskal saat ini dengan dibandingkan dengan tahun fiskal 5 tahun yang lalu.

Beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya merupakan beberapa kinerja dari aspek risiko kredit yang berpotensi menjadi faktor penghambat meningkatkan harga saham perusahaan-perusahaan konstruksi saat ini. Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul adalah apakah sisi positif dari perusahaan-perusahaan konstruksi untuk saat ini? Well, yang paling pertama terlihat tentunya adalah agresifnya perusahaan-perusahaan tersebut dalam menangani demand pembangunan. Demand yang naik berarti pertumbuhan revenue perusahaan tersebut cukup terjaga. Apabila aspek efisiensi operasional bisa baik, bottom line dari perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi untuk terus baik. Karena revenue dan income biasanya berbanding lurus dengan harga saham dalam jangka panjang, sebenarnya masih terdapat kemungkinan peningkatan atau turnaround harga saham sektor konstruksi ini di masa yang akan datang, terutama apabila investor memandang bahwa credit risk telah membaik.

Aspek positif kedua yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut terletak pada sisi valuasi. Penurunan harga saham dari perusahaan-perusahaan konstruksi dalam beberapa tahun terakhir telah membuat valuasi internal dan valuasi relatif dari perusahaan-perusahaan tersebut menarik. Indikator Price/Book Value dari WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP masing-masing adalah sebesar 1.4, 1, 0.9, dan 0.8. Hal tersebut menunjukkan bahwa keempat saham tersebut saat ini di pasar dihargai sebesar nilai bukunya. Dari sisi Price/Earning, keempat saham tersebut masing-masing memiliki nilai P/E 6, 8, 6, dan 6 atau dalam kalimat lain cukup rendah dibandingkan dengan rata-rata nilai historis P/E-nya. Aspek valuasi yang rendah ini merupakan hal yang baik, terutama apabila risiko kredit telah berubah menjadi lebih baik.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.