Rupiah Membara, Bagaimana Kondisi Perekonomian Makro Kita?

Dalam beberapa waktu terakhir, diskusi mengenai kondisi perekonomian negara terasa cukup hangat karena melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US Dollar. Di satu sisi, ada yang berpandangan bahwa kondisi perekonomian memang sedang kurang baik. Di sisi yang lain, terdapat pihak yang memiliki perspektif bahwa kondisi perekonomian kita baik-baik saja. Pada dasarnya kedua pandangan tersebut tidak bisa disalahkan karena indikator  serta pembanding (benchmark) yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja ekonomi memang berbeda. Yang menjadi permasalahan, pihak-pihak yang awam terhadap indikator ekonomi makro seakan kesulitan untuk menginterpretasikan dan menarik kesimpulan terkait kondisi yang sebenarnya terjadi.

Tulisan ini akan membahas mengenai gambaran kondisi perekonomian nasional dengan menggunakan beberapa indikator dan benchmark yang umum digunakan. Tulisan tidak ditujukan untuk membenarkan salah satu pihak dan menyalahkan pihak yang lain serta tidak bermuatan politis. Analisis akan dilakukan dengan menggunakan sumber data yang tersedia bagi publik.

Nilai Tukar Mata Uang

Pembiacaraan mengenai kondisi perekonomian negara menjadi hangat salah satunya karena nilai tukar rupiah yang terus merosot dibandingkan dengan mata uang asing, terutama US Dollar. Sepanjang tahun 2018, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah kurang lebih sebesar -12%. Pergerakan nilai tukar mata uang suatu negara dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik eksternal maupun internal.

Dari faktor eksternal, beberapa faktor yang kerap dikemukakan sebagai penyebab turunnya nilai tukar rupiah antara lain adalah menguatnya perekonomian negara adidaya Amerika Serikat dan mata uang Greenback-nya. Recovery perekonomian US memang suatu hal yang nyata. Hal tersebut tercermin dari telah dilakukannya normalisasi terhadap kebijakan Quantitative Easing, semakin turunnya angka pengangguran, meningkatnya inflasi, peningkatan interest rates, dan positifnya beberapa indikator makro ekonomi yang lain. Dengan semakin baiknya kondisi perekonomian US, maka wajar apabila arus dana kembali masuk ke negeri tersebut. Hal tersebut juga terlihat dari semakin baiknya kinerja indeks saham DOW, S&P, dan NASDAQ sepanjang tahun ini. Berdasarkan hal-hal ini, dapat diketahui bahwa peningkatan perekonomian US memang suatu hal yang nyata. Meskipun demikian, proposisi bahwa hal tersebut menjadi penyebab utama dari depresiasi nilai tukar rupiah masih memerlukan pengecekan lebih lanjut. Perbandingan pergerakan mata uang US Dollar dengan mata uang Rupiah dalam hal ini perlu dilakukan.

Jika ditinjau dari US Dollar Index yang mengukur nilai dari US Dollar secara relatif terhadap beberapa mata uang yang lain, sebenarnya sampai saat ini US Dollar belum dapat dikatakan naik signifikan. Dalam satu tahun terakhir, pegerakan US Dollar Index relatif flat dengan kenaikan kurang lebih hanya naik +2%. Hal tersebut cukup kontras dengan mata uang Rupiah yang tercatat terdepresiasi terhadap US Dollar kurang lebih sebesar -12% dalam periode yang sama. Apabila time horizon-nya diperlebar menjadi tiga tahun, US Dollar Index tercatat juga hanya bergerak flat dengan kenaikan sangat tipis +1%. Dalam periode tersebut, mata uang rupiah terdepresiasi kurang lebih -13%. Berdasarkan hal tersebut, argumen bahwa penurunan mata uang rupiah lebih banyak disebabkan oleh penguatan US Dollar sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Tabel perbandingan pergerakan US Dollar Index dengan nilai tukar antara Dollar dan Rupiah dapat dilihat pada beberapa Chart sebagai berikut:

Pergerakan US Dollar Index dalam 1 Tahun Terakhir (Sumber: Marketwatch)

 

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD dalam 1 Tahun Terakhir (Sumber: Marketwatch)

 

Pergerakan US Dollar Index dalam 3 Tahun Terakhir (Sumber: Marketwatch)

 

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD dalam 3 Tahun Terakhir (Sumber: Marketwatch)

Melemahnya nilai tukar rupiah di tengah pergerakan US Dollar Index yang relatif flat ini menuntun kita untuk menganalisis beberapa indikator yang lain.

Pasar Saham

Selain terkait nilai tukar, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk gauging kondisi perekonomian suatu negara adalah kinerja pasar saham secara agregat. Pasar saham dipandang sebagai salah satu indikator yang cukup fair karena pergerakannya ditentukan oleh nilai transaksi yang sangat besar. Secara individual, pergerakan harga saham dapat dimanipulasi oleh beberapa pihak, terutama apabila nilai kapitalisasi pasar saham tersebut kecil. Meskipun demikian, secara agregat pergerakan pasar saham cukup sulit untuk dimanipulasi karena besarnya dana yang diperlukan untuk menggerakkan indeks. Berdasarkan hal tersebut, banyak pihak yang menggunakan kinerja pasar saham secara agregat untuk mengetahui kondisi perekonomian negara. Kondisi perekonomian secara agregat dapat dikatakan baik apabila pergerakan pasar saham secara agregat di suatu negara positif dan demikian pula sebaliknya.

Sepanjang tahun 2018, IHSG tercatat telah turun -7.6%. Pada periode tersebut, indeks Dow Jones naik +8.5% . Di pasar Asia Tenggara, indeks saham di Thailand dan Malaysia yang memiliki profile perekonomian yang mendekati Indonesia terkonsolidasi dengan pergerakan flat kurang lebih ~0%. Perbandingan pergerakan harga saham di beberapa negara sepanjang tahun 2018 ini adalah sebagai berikut:

Perbandingan Pergerakan IHSG, Dow Jones, SET Thailand, dan KLCI Malaysia YTD 2018 (Sumber: Thomson Reuters)

Sementara itu, dalam satu tahun terakhir IHSG tercatat telah turun kurang lebih -3%. Dalam periode yang sama, Index Dow Jones di US tercatat telah naik +18%. Indeks saham di Thailand dan Malaysia tercatat naik masing-masing kurang lebih sebesar +3% dan +2%. Grafik perbandingan pergerakan IHSG dengan Down Jones, index Thailand, dan index Malaysia dalam satu tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Perbandingan Pergerakan IHSG, Dow Jones, SET Thailand, dan KLCI Malaysia dalam 1 Tahun Terakhir (Sumber: Thomson Reuters)

Hasil analisis terhadap pergerakan harga saham secara agregat menunjukkan bahwa secara umum IHSG dalam hal ini ada dalam posisi laggard. Hal tersebut berarti bahwa kinerja dari IHSG secara komparatif relatif rendah dari kinerja indeks saham di Thailand, Malaysia, dan Amerika.

Hasil analisis yang dilakukan terhadap pergerakan harga saham secara agregat mengonfirmasi fenomena pelemahan nilai tukar rupiah. Kedua indikator berupa nilai tukar dan indeks harga saham domestik saat ini bergerak selaras, yaitu underperform secara relatif terhadap beberapa benchmark. Berdasarkan hal tersebut, analisis lebih lanjut mengenai indikator perekonomian makro domestik mutlak diperlukan.

Gross Domestic Product (GDP)

Indikator paling dasar yang biasa digunakan untuk menganalisis kondisi perekonomian makro adalah pertumbuhan GDP. Dalam hal ini, GDP terbentuk dari penjulaman komponen Konsumsi Rumah Tangga, Investasi, Belanja Pemerintah, dan selisih antara Ekspor dan Impor. Pada akhir tahun 2017, GDP Indonesia tumbuh sebesar 5.07%. Pertumbuhan tersebut lebih baik dari tahun 2016 dimana GDP Indonesia naik 5.02%. Meskipun demikian, dalam time horizon yang lebih lebar  (lima tahun terakhir), pertumbuhan GDP Indonesia secara umum tercatat mengalami trend perlambatan. Grafik pertumbuhan GDP di Indonesia dalam 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Pertumbuhan GDP Indonesia dalam 5 Tahun Terakhir (Sumber: Thomson Reuters)

Jika ditinjau per komponen, penurunan pertumbuhan GDP tersebut selaras dengan trend pada komponen Konsumsi Rumah Tangga dan peningkatan defisit selisih ekspor dengan impor. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan komponen Konsumsi Rumah Tangga tercatat mengalami perlambatan. Selain itu, perhatian juga perlu dilakukan pada angka pertumbuhan impor yang dalam empat kuartal terakhir tercatat tumbuh konsisten di atas +10% per tahun. Yang menjadi kendala, pertumbuhan ekspor tidak berada dalam rate yang sama dengan pertumbuhan impor. Defisitnya selisih ekspor dan impor ini dapat diartikan bahwa domestic expenditure yang ada di Indonesia saat ini melebihi domestic outout. Hal terebut menyebabkan menjadi beban tersendiri pada current account Indonesia.

 

Current Account

Dalam ekonomi makro, current account merupakan salah satu komponen dari balance of payment. Current account dalam hal ini mencakup komponen balance of trade, net investment income, dan cash transfer. Meskipun tidak selalu sama persis, nilai dari Current Account akan mendekati dengan selisih antara ekspor dan impor. Current Account Deficit berarti bahwa suatu negara membeli lebih banyak dari foreigner dibandingkan dengan yang dijual ke foreigner. 

Dalam lima tahun terakhir, posisi Current Account Indonesia dibandingkan dengan GDP tercatat selalu berada dalam kondisi defisit. Trend defisit dari Current Account terhadap GDP dalam dua tahun terakhir terlihat cukup tajam sebagaimana yang terdapat pada gambar sebagai berikut:

Trend Current Account/GDP (Sumber: Thomson Reuters)

Defisit dari current account yang mengindikasikan bahwa Indonesia membeli lebih banyak ke foreigner daripada menjual ke foreigner tersebut membuat demand terhadap mata uang asing menjadi tinggi. Hal tersebut berpotensi menjadi salah satu penyebab utama dari pelemahan mata uang rupiah.

Defisit dari current account yang disebabkan oleh peningkatan import ini menarik untuk di-cross dengan data inflasi. Apakah peningkatan konsumsi domestik dalam hal ini berdampak pada perubahan komponen harga?

Inflation

Inflation secara sederhana dapat diartikan sebagai  kenaikan harga produk dan jasa dalam satu periode waktu. Melakukan analisis terhadap indikator inflation harus hati-hati. Inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu volatile dalam hal ini tidak preferable karena menghambat pertumbuhan ekononomi. Namun, di sisi lain inflasi yang rendah juga kurang baik karena hal tersebut secara tidak langsung mengindikasikan lemahnya demand. Beberapa negara dalam hal ini membandingkan nilai pertumbuhan inflasi dengan target pertumbuhan inflasi. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan inflasi di Indonesia adalah sebagai berikut:

Inflation Rate Indonesia (Sumber: Thomson Reuters)

Berdasarkan data yang ada, dapat diketahui bahwa dalam lima tahun terakhir secara umum Indonesia inflasi berada dalam kondisi rendah. Di satu sisi, hal tersebut bisa dipandang baik karena harga barang secara agregat relatif stabil. Namun, di sisi yang lain hal tersebut dapat menjadi indikasi awal dari rendahnya demand dan daya beli. Apabila dilakukan cross analysis dengan perlambatan konsumsi rumah tangga, maka profil perlambatan inflasi dalam hal ini selaras.

Unemployment Rate

Unemployment rate merupakan salah satu indikator yang menjadi perhatian beberapa negara besar karena salah satu objective negara adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Dalam lima tahun terakhir, trend unemployment rate di Indonesia tercatat turun. Hal tersebut mengindikasikan kondisi yang baik.

Unemployment Rate Indonesia (Sumber: Thomson Reuters)

Divergence between Monetary Policy vs Actual Performance 

Kebijakan moneter suatu negara biasanya dapat dilakukan melalui tiga mekanisme, yaitu melalui perubahan discount rate, reserve requirement, dan open market purchase. Suatu negara normalnya melakukan penurunan discount rate, penurunan reserve requirement, dan pembelian aset keuangan dari open market apabila ingin meningkatkan money supply yang pada akhirnya ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomiDi sisi lain, negara akan mengambil kebijakan menaikkan discount rate, reserve requirement, dan penjualan aset keuangan di open market apabila ekonomi dipandang terlalu panas.

Dalam beberapa waktu terakhir, Bank Indonesia (BI) tercatat beberapa kali telah menaikkan rate dan melakukan operasi pasar dengan menggunakan cadangan devisa. Dalam kondisi normal, peningkatan discount rate dan operasi pasar ini biasanya ditujukan untuk menahan depresiasi mata uang. Meskipun demikian, sampai saat ini peningkatan discount rate dan operasi pasar tersebut belum cukup dapat menahan depresiasi Rupiah.

Di sisi lain, peningkatan discount rate biasanya dilakukan ketika ekonomi dalam keadaan overheating. Yang terjadi saat ini sebenarnya cukup anomali karena peningkatan rate dilakukan saat inflasi masih dalam angka yang cukup rendah dan pertumbuhan GDP tengah dalam trend perlambatan.

Divergence between Fiscal Policy vs Actual Performance 

Stimulus fiskal yang dapat dilakukan oleh pemerintah biasanya dilakukan dalam bentuk peningkatan konsumsi. Government budget deficit biasa dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan demand. Dampak dari peningkatan demand ini biasanya diikuti dengan kenaikan inflasi.

Dalam lima tahun terakhir, balance dari government budget tercatat terus turun sebagainya yang terdapat pada grafik berikut:

Government Budget Deficit/Surplus (Sumber: Thomson Reuters)

Kenaikan budget deficit dalam lima tahun terakhir tersebut dalam kondisi normal seharusnya diikuti dengan peningkatan demand dan harga. Dua indikator ini biasanya ter-capture pada inflasi dan GDP. Meskipun demikian, saat ini hubungan dari kebijakan fiskal dengan actual performance tersebut tidak berjalan sebaimana yang terdapat pada kondisi normal. Peningkatan budget deficit dalam hal ini diiringi dengan perlambatan pertumbuhan GDP dan Inflasi. Grafik hubungan antara ketiga indikator ini adalah sebagai berikut:

Hubungan antara Budget Deficit, Pertumbuhan GDP, dan Inflasi (Sumber: Thomson Reuters)

 

Bottom Line

Berdasarkan beberapa kondisi yang ada, maka beberapa hal yang dapat disimpulkan sampai dengan saat ini adalah sebagai berikut:

  1. Ekonomi negara tercatat masih tumbuh. Pertumbuhan GDP tahun 2017 tercatat lebih baik dari 2018. Hal tersebut terkonfirmasi dengan pertumbuhan GDP pada Q2 2018 yang semakin baik. Meskipun demikian, dalam time horizon yang lebih lebar, dapat diketahui bahwa saat ini trend pertumbuhannya melambat.
  2. Inflasi yang ada masih cukup terkendali.
  3. Unemployment Rate tercatat masih sangat baik. Trend menunjukkan bahwa unemployment rate terus mengalami perbaikan dari waktu ke waktu.
  4. Nilai tukar mata uang masih menunjukkan pelemahan. Faktor eksternal sampai dengan saat ini tercatat tidak terlalu signifikan. Kondisi domestik yang disebabkan oleh current account deficit berpotensi menjadi penyebab utama dari pelemahan mata uang. Perbaikan current account deficit merupakan perkerjaan rumah utama yang harus dilakukan.
  5. Kinerja indeks saham baik secara actual number maupun secara komparatif dibandingkan dengan negara maju maupun negara yang memiliki karakteristik serupa tercatat tidak terlalu menggembirakan.
  6. Terdapat divergence antara arah kebijakan moneter yang diambil dengan temporary condition yang ada saat ini. Kebijakan peningkatan discount rate dan operasi pasar sampai saat ini belum dapat meredam depresiasi mata uang dan kurang relevan di tengah trend GDP dan inflasi yang mengalami perlambatan.
  7. Terdapat divergence antara arah kebijakan fiskal yang diambil dengan temporary condition yang ada saat ini. Hasil dari peningkatan government budget deficit belum tercermin pada indikator pertumbuhan GDP dan inflasi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.