Menghindari Salah Kaprah dalam Melakukan Transformasi Digital

Transformasi digital mulai banyak diperbincangkan seiring dengan populernya terminologi Industri 4.0. Akhir-akhir ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mendeklarasikan dan mengimplementasikan “transformasi digital “agar sejalan dengan pesatnya perkembangan platform, artificial intelligence/robotics, machine learning, internet of things, big data, block chain, social, mobile, cloud, dan yang lainnya. Tidak jarang, banyak perusahaan yang berusaha untuk catch up dengan perkembangan tersebut agar terlihat “kekinian”, meskipun pada dasarnya kurang memahami hakekat dari transformasi digital. Yang menjadi permasalahan, banyak perusahaan yang belum memahami dengan baik hakekat dan esensi dari transformasi digital. Apabila transformasi digital tidak dilakukan secara tepat, kelangsungan usaha dari perusahaan di sektor-sektor yang terdisrupsi perkembangan digital berpotensi untuk terancam. Tulisan ini berisi pembahasan mengenai fenomena disrupsi digital yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baru, upaya-upaya transformasi digital yang dilakukan secara tepat dan salah kaprah oleh beberapa perusahaan “incumbent”,  serta usulan strategi transformasi digital yang dapat diadopsi oleh perusahaan-perusahaan “incumbent” di sektor-sektor yang belum terlalu terpengaruh oleh disrupsi digital.

Fenomena maraknya transformasi digital telah banyak dibahas di beberapa literatur terkini. Dari beberapa jenis yang ada, platform merupakan salah satu jenis disrupsi digital yang mengubah model bisnis secara drastis. Perkembangan implementasi platform membuat perusahaan seperti Uber dan AirBnB yang pada dasarnya tidak memiliki mobil dan bangunan sendiri mampu mengancam perusahaan transportasi dan hotel konvensional. Platform, dalam hal ini, dapat merovolusi model bisnis transportasi dan perhotelan. Jika sebelumnya perusahaan yang akan menjadi penyedia jasa transportasi dan perhotelan dituntut untuk memiliki budget yang besar untuk membeli mobil, bangunan, membayar gaji sopir, dan pekerja lainnya, perusahaan berbasis platform seperti Uber dan AirBnB lebih berfokus untuk merancang arsitektur untuk mempertemukan pemilik mobil/kamar yang akan meningkatkan utilisasi asetnya dengan pencari jasa transportasi/penyewaan kamar. Dalam hal ini, perusahaan berbasis platform tersebut mampu mengubah model bisnis jasa transportasi dan penyewaan secara revolusioner

Selain pada bidang transportasi dan perhotelan, platform juga telah merevolusi beberapa bisnis jasa. Dalam hal ini, perusahaan platform seperti upwork dan udemy mampu memfasilitasi orang yang memiliki keahlian khusus untuk menjual expertise dan skill-nya secara online tanpa adanya batasan waktu kerja seperti yang biasa terjadi di perusahaan konvensional. Jika sebelumnya perusahaan yang memerlukan jasa designer, mobile developer, writer, dan lain sebagainya harus merekrut karyawan dengan keahlian tersebut atau menggunakan jasa pihak ketiga dengan prosedur pembelian dan kontrak kerja yang rumit, saat ini beberapa perusahaan atau individu dapat memanfaatkan perusahaan berbasis platform seperti upwork untuk merekrut freelancers guna menyelesaikan proyek-proyeknya. Selain upwork, perusahaan platform seperti udemy dapat merevolusi bidang pendidikan dan pelatihan. Udemy, dalam hal ini, dapat mempertemukan pengajar yang ingin memberikan course dengan pihak-pihak yang ingin mendapatkan pelatihan secara online. Dengan menggunakan udemy, kita tidak harus mengikuti kursus atau pelatihan yang memerlukan kehadiran secara fisik. Upwork, elance, odesk, dan udemy, dalam hal ini, merupakan contoh bagaimana transformasi digital dalam bentuk platform mampu merevolusi bagaimana cara kita melakukan pekerjaan dan bagaimana kita mendapatkan jasa pelatihan.

Disamping platform, perkembangan artificial intelligence dalam format machine learning juga telah banyak mengubah bagaimana perusahaan melakukan bisnis. Beberapa perusahaan maskapai serta perhotelan memahami dengan baik bahwa otak manusia hebat namun buggy  karena sering menghasilkan judgement yang bersifat bias. Dengan  memahami area-area di dalam bisnis dimana machine dapat lebih baik digunakan daripada judgement manusia, beberapa maskapai dan hotel secara cerdik telah mengimplementasikan algoritma untuk menentukan dynamic pricing untuk mendukung revenue management perusahaan. Selain itu, algoritma juga dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut untuk mendukung keputusan kapan dan dimana suatu iklan sebaiknya dieksekusi. Beberapa perusahaan lain seperti Amazon dan Facebook juga telah secara tepat memanfaatkan algoritma untuk mendukung program-program cross selling. Perusahaan-perusahaan tersebut mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data historis pelanggannya, baik yang mencakup behaviour, preference, profile, dan lain sebagainya, dan kemudian memberikan rekomendasi produk atau layanan lain yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Di sektor finansial, saat ini beberapa perusahaan mulai menerapkan machine learning untuk menyusun program wealth management yang berbasis pada kemajuan teknologi digital. Dalam hal ini, algoritma dapat digunakan sebagai pendukung keputusan investasi yang disesuaikan profil risiko yang dimiliki oleh client perusahaan. Di sektor agrikultur, kemajuan drone, sensor, dan machine learning telah dimanfaatkan untuk mengubah secara drastis bagaimana suatu lahan pertanian dikelola dan dipasarkan. Dengan menggunakan kemajuan digital tersebut, petani dapat menganalisis kapan, di mana, dan seberapa banyak suatu pupuk diberikan ke tanaman agar hasil produksi dapat lebih optimal. Beberapa contoh ini menunjukkan bahwa disrupsi machine telah banyak mengubah bagaimana suatu bisnis dijalankan.

Wujud lain dari disrupsi digital yang dampaknya masif adalah pemanfaatan crowd. Sebelumnya, perusahaan banyak memanfaatkan banyak bergantung kepada resources dari internal organisasi untuk mengerjakan aktivitas bisnis. Pada kenyataannya, internal resources terkadang tidak seahli yang diharapkan dan outdated apabila dibandingkan dengan yang ada di eksternal. Sumber daya dari eksternal, di sisi yang lain, terkadang justru lebih fresh. Berbasis akan hal ini, beberapa perusahaan mulai mengubah cara mereka menjalankan bisnis dengan memanfaatkan crowd. Melalui Mechanical Turk, Amazon memanfaatkan sumber daya eksternal untuk melakukan training terhadap teknologi machine learning-nya.  General Electric juga memanfaatkan crowd untuk melakukan asesment terhadap produk yang dibangunnya. Beberapa perusahaan lain telah memanfaatkan 99designs untuk mendapatkan jasa designer dari luar organisasi. Beberapa organisasi memanfaatkan populernya crowdfunding dan crowdlending sebagai alternatif sumber pendanaan.

Disrupsi dari digital platform, machine, dan crowd dan lain sebagainya telah banyak merevolusi model bisnis perusahaan. Perusahaan-perusahaan besar, dalam hal ini, memiliki dua pilihan untuk menanggapai disrupsi tersebut. Perusahaan yang bersifat terbuka dapat melakukan transformasi digital untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan. Apple, yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang sangat eksklusif, secara cerdas telah melakukan transformasi digital. Melihat bahwa perkembangan platform dapat menjadi ancaman sekaligus menawarkan peluang, Apple memilih untuk mengoptimalkan peluang yang muncul dengan menyediakan layanan berbasis platform. Kombinasi antara devices dengan Apple Store merupakan salah satu wujud transformasi digital yang dilakukan oleh Apple. Jika sebelumnya Apple banyak menggantungkan internal resources-nya untuk membangun Apps di atas iPhone, saat ini Apple telah terbuka terhadap pihak ketiga untuk membangun Apps untuk iPhone. Apple Store berfungsi sebagai aggregator yang mempertemukan apps developer dengan iPhone users yang ingin mencari apps.

Selain Apple, Nike juga merupakan contoh perusahaan yang secara sukses merespon perkembangan digital. Jika sebelumnya Nike hanya berfokus pada usaha untuk menjual alat-alat, pakaian, atau sepatu olah raga, saat ini Nike telah melakukan transformasi dengan memanfaatkan kemajuan digital untuk menangkap data dan insight dari pelanggannya. Program Nike Run merupakan contoh dimana Nike secara jitu memanfaatkan perkembangan digital untuk mengumpulkan data catatan olah rata dari pelanggannya, meningkatkan engagement dengan pelanggan, dan memberikan layanan rekomendasi yang sesuai dengan profil masing-masing pelanggan. Secara cerdik, Nike telah menambahkan model bisnis berbasis layanan yang pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Apple dan Nike merupakan beberapa contoh perusahaan besar yang secara sukses melakukan transformasi digital. Perusahaan-perusahaan tersebut memahami bahwa disrupsi digital selain memberikan ancaman juga menawarkan peluang yang sangat besar bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk berkembang. Selain itu, beberapa perusahaan tersebut juga menyadari bahwa transformasi digital dilakukan dengan mengubah model bisnis, meskipun tidak harus secara keseluruhan. Melalui Apple Store, Apple mengubah model bisnis dari yang sebelumnya sebagai apps developer menjadi agregator apps. Sementara itu, Nike dengan inisiatif Nike Run mampu mengembangkan model bisnis penjualan peralatan dan pakaian olah raga menjadi berbasis layanan. Inisiatif transformasi digital yang dilakukan oleh Apple dan Nike pada akhirnya membuat perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya survive, namun juga terus tumbuh.

Selain peluang, disrupsi digital juga memberikan ancaman yang serius untuk perusahaan-perusahaan “incumbent”. Dalam hal ini, beberapa perusahaan eksisting gagal melakukan transformasi digital untuk merespon disrupsi yang terjadi. Pada lingkup domestik, beberapa perusahaan penyedia jasa transportasi darat menunjukkan fenomena penurunan pendapatan dan keuntungan finansial seiring dengan fenomena tumbuhnya transportasi online. Selain itu, beberapa perusahaan media yang sebelumnya sangat populer akhirnya memilih untuk menutup salah satu lini bisnisnya karena saat ini orang-orang banyak memanfaatkan platform penyedia layanan blogging, vlogging, atau microblogging seperti Medium, Twitter, atau YouTube untuk mengakses berita terkini. Pada lingkup internasional, beberapa perusahaan perhotelan besar mencatatkan penurunan laba usaha seiring dengan berkembangnya platform seperti AirBnB. Beberapa fenomena tersebut menunjukkan bahwa apabila perusahaan tidak secara tepat merumuskan dan mengimplementasikan strategi transportasi digital, maka disrupsi digital dapat memberikan dampak yang serius terhadap kelangsungan usaha perusahaan.

Beberapa contoh yang telah diuraikan menunjukkan bahwa kelangsungan usaha perusahaan-perusahaan eksisting bergantung terhadap strategi transformasi digital yang dirumuskan dan diimplementasikan. Perusahaan yang memahami dengan baik esensi dari transformasi digital mampu merespon disrupsi tersebut dan memanfaatkannya menjadi peluang untuk mengembangkan usaha. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang gagal memahami dengan baik esensi dari transformasi digital cenderung menunjukkan fenomena perlambatan usaha. Disrupsi digital pada sektor transportasi, perhotelan, dan media telah memberikan pembelajaran yang berharga.

Yang menjadi permasalahan, banyak perusahaan yang bergerak di sektor lain, khususnya di sektor-sektor yang saat ini belum terlalu terancam dengan disrupsi digital, masih salah kaprah dalam merumuskan strategi transformasi digital. Meskipun perusahaan-perusahaan tersebut telah aware bahwa disrupsi digital dapat mengancam kelangsungan usaha mereka ke depan, apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut masih seperti formalitas. Beberapa perusahaan memaknai transformasi digital dalam wujud pembuatan social media account, penyelenggaraan digital expo, digital roadshow, dan beberapa implementasi teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses. Fenomena yang ada, dalam hal ini, menyerupai maraknya penggunaan huruf “e” sekitar dua puluh tahun yang lalu. Pada masa tersebut, maraknya jargon  e-business, e-commerce, dan e-government membuat banyak perusahaan yang sebenarnya kurang memahami hakekat dari “electronic” memaksakan diri melakukan rebranding dengan menambahkan huruf “e” di depan nama perusahaannya. Beberapa instansi pemerintah, bahkan, mendeklarasikan diri telah mengimplementasikan e-government, meskipun yang dilakukan sebenarnya hanya membuat website instansi.

Sebagaimana pembuatan website instansi, dalam hal ini sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengaktivasi social media account, penyelenggaraan digital roadshow, dan menggalakkan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses. Yang menjadi poin pembahasan, transformasi digital yang dilakukan secara tepat adalah transformasi yang menyentuh ke perubahan cara menjalankan bisnis. Uber dan AirBnB menunjukkan bahwa model bisnis transportasi dan bisnis perhotelan dapat diubah secara drastis menjadi berbasis platform. Upwork dan Udemy merevolusi model bisnis layanan dengan mengalihkan penyediaan jasa editing, software development, pelatihan, dan lain sebagainya menjadi berbasis platform. Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan upaya digitalisasi yang ditujukan untuk meningkatkan awareness dari stakeholders akan brand perusahaan atau transformaski digital yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses. Konsep digitalisasi yang secara disruptif dilakukan oleh Uber, AirBnB, Upwork dan transformasi digital yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar seperti Apple menyasar ke perubahan atau transformasi business model dengan memanfaatkan kemajuan beberapa konsep/teknologi terkini seperti platform, crowd, artificial intelligence, dan lain sebagainya.

Berdasarkan kondisi yang ada, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor yang saat ini terasa belum terlalu terpengaruh oleh perkembangan platform, crowd, dan artificial intelligence dapat belajar dari apa yang terjadi oleh perusahaan-perusahaan lain yang terdisrupsi oleh perusahaan-perusahaan baru yang dapat memanfaatkan dengan baik kemajuan digital. Agar perusahaan-perusahaan eksisting tersebut tidak gagap ketika serangan dari perusahaan-perusahaan baru benar-benar telah mengancam, perusahaan-perusahaan yang saat ini menguasai pasar dapat mulai mengkaji, mengembangkan prototype, atau melakukan eksperimen untuk menganalisis model bisnis apa dari perusahaan yang dapat diubah untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh perkembangan konsep/teknologi digital. Sebagai contoh, suatu rumah sakit yang saat ini melakukan model bisnis secara konvensional dengan menyediakan peralatan kesehatan untuk melayani pasien yang datang dapat mulai mengkaji apakah konsep platform dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan utilisasi dari alat-alat kesehatan tersebut dengan melakukan penyewaan ke pihak di luar rumah sakit. Pada konteks yang lebih detail, rumah sakit dapat mengkaji, apakah peralatan MRI-nya dapat diutilisasi oleh pihak lain di luar pasien yang datang ke rumah sakit tersebut, tetama pada jam-jam dimana MRI tersebut tidak digunakan.

Selain untuk meningkatkan utilisasi aset, platform business model juga dapat dikaji penerapannya oleh perusahaan-perusahaan eksisting untuk menjaring resources dari eksternal perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan minyak dan gas yang sebelumnya mengandalkan internal resources untuk mendistribusikan produk-produknya dapat mengkaji kemungkinan penerapan platform untuk memanfaatkan external resources untuk membantu mendistribusikan produk-produknya. Selain itu, perusahaan tersebut juga dapat menerapkan platform untuk menjaring external resources seperti tenaga ahli di bidang Perminyakan, Geologi, dan lain sebagainya untuk membantu penyelesaian tasks yang bersifat project-based di dalam perusahaan. Di sisi yang lain, perusahaan yang bergerak dalam bidang logistik juga dapat memanfaatkan kombinasi antara algoritma dengan platform untuk meningkatkan utilisasi aset kendaraan yang dimilikinya, terutama pada waktu-waktu dimana sebelumnya aset tersebut idle. Sebagai contoh, perusahaan perkapalan atau pelayaran dapat memanfaatkan platform untuk menyewakan ruang muatnya pada saat kapal ada dalam kondisi ballast. Beberapa hal ini hanya merupakan sedikit contoh transformasi digital yang dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan incumbent. Selain hal-hal tersebut, perusahaan-perusahaan “incumbent” juga dapat secara esensial mengubah model bisnisnya dengan memanfaatkan kemajuan Artificial Intelligence, Blockchain, Crowd, dan lain sebagainya.

Untuk melakukan transformasi digital secara efektif, perusahaan-perusahaan eksisting dapat melakukan beberapa strategi implementasi. Apabila perusahaan percaya bahwa internal resources yang ada di dalam perusahaan berpotensi untuk dikembangkan dan berubah sepenuhnya untuk merespon disrupsi digital dan menjadi agen perubahan, perusahaan tersebut dapat melakukan transformasi digital secara menyeluruh dengan mengandalkan internal resources. Di sisi yang lain, apabila perusahaan ingin mengurangi risiko kegagalan dari transformasi digital, perusahaan dapat memilih untuk melakukan pilot project transformasi digital yang melibatkan hanya sebagian unit bisnisnya atau sebagian dari product/service lines yang dimiliki oleh perusahaan. Selain hal ini, perusahaan juga dapat bekerja sama dengan perusahaan lain yang memiliki kompetensi dan pengalaman lebih untuk melakukan transformasi digital.

Bottom Line

Secara umum, diketahui bahwa disrupsi dan transformasi digital merupakan suatu keniscayaan. Disrupsi tersebut memberikan peluang sekaligus ancaman yang luar biasa bagi perusahaan-perusahaan yang sebelumnya menguasai market. Apabila perusahaan-perusahaan “incumbent” tersebut memahami dengan baik esensi dari transformasi digital, perusahaan dapat memanfaatkan momentum yang ada untuk meningkatkan kinerja bisnisnya. Apple dan Nike merupakan contoh perusahaan yang dengan baik memanfaatkan disrupsi digital. Namun, apabila perusahaan-perusahaan eksisting bersifat terlambat dan gagap dalam merespon disrupsi digital yang berjalan dengan cepat, kelangsungan usaha dari perusahaan-perusahaan “incumbent”, dalam hal ini, berpotensi untuk terancam.

Untuk menghindari downfall usaha yang disebabkan oleh disrupsi digital, perusahaan-perusahaan “incumbent” perlu memahami dengan baik esensi dari transformasi digital. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan “incumbent” tidak dapat memandang transformasi digital hanya sebagai upaya untuk meningkatkan “brand” perusahaan dan memanfaatkan kemajuan IT untuk meningkatkan efisiensi proses. Perusahaan-perusahaan “incumbent” harus mampu mengidentifikasi arena bisnis yang ada di dalam perusahaan yang berpotensi diubah modelnya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Selain hal tersebut, perusahaan-perusahaan eksisting juga harus dapat merumuskan strategi transformasi yang sesuai dengan konteks perusahaan.

~Dr. Dian Prama Irfani

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.