Jose Mourinho dalam Perspektif Sains Manajemen

 

Jose Mourinho merupakan pelatih sepakbola terkenal dengan serangkaian prestasi mentereng. Di Porto, Jose berhasil memenangkan Liga Champions dan Juara Liga. Di Chelsea, Jose berhasil membawa club tersebut menjadi back to back Juara Liga Inggris. Di Inter Milan, Jose berhasil memenuhi ambisi Massimo Moratti untuk memenangkan Liga Champions. Di Real Madrid, Jose berhasil mematahkan dominasi Barcelona di Liga Spanyol. Di setiap klub yang dilatihnya, Jose Mourinho selalu berhasil mempersembahkan trofi.

Di tengah rangkaian kesuksesan tersebut, Jose Mourinho memiliki karakter dan metode kerja yang unik dimana hal-hal tersebut relevan dengan konsep management science. Apa yang dilakukan oleh Jose Mourinho di dunia sepakbola, dalam hal ini, sangat menarik untuk dibahas seperti halnya success story Steve Jobs dalam membangun Apple, Jeff Bezos dalam mengembangkan Amazon, dan Bill Gates dalam merintis Microsoft. Bagaimanakah relevansi Jose’s approach di bidang sepakbola untuk diterapkan dalam konteks business management?

 

Accepting Challenging Projects (Turnaround Situation)

Jose Mourinho merupakan master dalam mengubah peruntungan klub yang sebelumnya sedang menderita menjadi klub juara. Apabila dianalisis secara mendalam, beberapa klub sepakbola yang dihantarkan oleh Jose Mourinho untuk menjadi juara memiliki beberapa persamaan. Porto merupakan klub di Liga Portugal dimana klub dari negara tersebut sangat jarang menjuarai Liga Champions. Dalam hal ini, pemain-pemain Porto sebelumnya selalu kurang percaya diri untuk berkompetisi dengan beberapa klub besar dari Inggris, Spanyol, dan Italia. Meskipun demikian, di tangan Mourinho, Porto diantarkannya menjadi Juara Liga Eropa dan Juara Liga Champions. Kondisi yang sama juga dijumpai ketika Jose menangani Chelsea. Chelsea terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada tahun 1954-1955 atau 50 tahun sebelum Jose mengambil alih. Di Liga Inggris, Chelsea merupakan klub papan tengah atau medioker yang minder setiap kali harus berhadapan dengan Manchester United atau Arsenal. Namun, di tangannya, Chelsea dibawa menjadi back to back juara Liga Inggris. Di Inter Milan, Jose Mourinho menghadapi fakta bahwa klub tersebut sudah 45 tahun tidak menjuarai Liga Champions. Massimo Moratti telah berkali-kali merekrut pemain besar seperti Ronaldo Nazario, Christian Vieri, Hernan Crespo dan beberapa pelatih top seperti Roberto Mancini, Hector Cuper, dan Marcelo Lippi. Meskipun demikian, upaya untuk menjadi juara Liga Champions kembali selalu gagal. Prestasi klub tersebut di kompetisi antar klub paling elit di eropa selalu inferior apabila dibandingkan dengan tetangganya, AC Milan. Baru di tangan Jose Mourinho lah di tahun 2010 Inter Milan kembali bisa memenangkan Liga Champions. Di Real Madrid, Jose menghadapi kondisi dimana klub tersebut selalu menjadi klub nomor 2 di Liga Spanyol dan selalu gagal melaju ke perempat final liga champions selama enam musim berturut-turut. Hebatnya, di bawah Mourinho, Real Madrid berhasil menjadi juara Liga Spanyol dengan rekor gol terbanyak dan mematahkan kutukan selalu terhenti di perempat final liga champions. Hal-hal tersebut menunjukkan kapabilitas Jose Mourinho dalam menghadapi proyek yang sangat menantang, dimana dirinya berhasil mengubah peruntungan klub yang sedang terpuruk menjadi klub juara.

Kondisi yang dihadapi Jose Mourinho, dalam hal ini, sangat relevan dengan konteks management science. Beberapa klub seperti Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid merupakan klub besar yang sedang dilanda masalah karena tidak dapat memenuhi target juara yang ditetapkan manajemen. Serupa dengan hal tersebut, pertumbuhan usaha suatu perusahaan biasanya mengalami suatu cycle tertentu. Suatu perusahaan terkadang dihadapkan pada penurunan kinerja, baik yang disebabkan oleh penurunan permintaan dari pelanggan, ketatnya kompetisi, perubahan regulasi dan lingkungan bisnis, ancaman produk pengganti, dan lain sebagainya. Ketika sedang berada dalam titik terendah karena penurunan kinerja tersebut, perusahaan memerlukan perubahan untuk membalikkan keadaan. Pada waktu tersebut, perusahaan memerlukan sosok pemimpin dan management team yang tepat agar mampu mengubah peruntungan perusahaan tersebut dari yang sebelumnya berkinerja buruk menjadi lebih baik. Dalam hal ini, perusahaan memerlukan figur seperti Jose Mourinho yang selalu sukses membalikkan keadaan suatu klub yang terpuruk menjadi juara.

 

Change Management

Hal menarik yang dilakukan oleh Jose Mourinho ketika membenahi klub yang sedang terpuruk adalah pendekatan manajemen perubahan yang diterapkannya. Dalam beberapa kesempatan wawancara, Jose Mourinho menekankan bahwa pola permainan yang diterapkannya di suatu tim bergantung dari karakteristik dan kualitas pemain yang ada di tim yang dia latih. Di Porto, Jose Mourinho mengetahui bahwa klub tersebut minim pemain bintang. Berdasarkan hal tersebut, pola permainan yang diterapkannya di klub tersebut mengandalkan semangat pemain untuk melakukan pressing ketat dan permainan kolektif. Di Inter Milan, Jose Mourinho mengandalkan pertahanan yang dalam karena di klub tersebut Jose memiliki Cordoba, Samuel, Maicon, Chivu, dan Materazzi yang merupakan defenders terbaik. Di Real Madrid, Jose Mourinho mengandalkan serangan balik cepat karena dirinya dibekali dengan pemain-pemain dengan akselerasi tinggi seperti Angel Di Maria, Cristiano Ronaldo, dan Higuain. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa untuk mengubah peruntungan tim dari kondisi terpuruk menjadi juara,  Jose Mourinho tidak mengubah total tim yang dimilikinya. Jose, secara sangat strategis, dapat menganalisis kekuatan dan kelemahan utama dari tim yang dilatihnya. Dalam hal ini, fokus Jose adalah mengeksplotasi kelebihan dan memperbaiki kelemahan timnya.

Pendekatan yang dilakukan oleh Jose Mourinho di klub-klub yang dilatihnya, dalam hal ini, sesuai untuk diterapkan untuk mengubah kondisi perusahaan yang kurang baik menjadi baik. Untuk meningkatkan kondisi perusahaan, pemimpin perusahaan tidak harus mengubah total seluruh aspek yang ada di perusahaan tersebut. Pemimpin perusahaan lebih dituntut untuk dapat menganalisis kelebihan dan kelemahan dari perusahaan yang dikelolanya. Perumusan strategi perusahaan, dalam hal ini, harus didasarkan pada hasil asesmen terkait kondisi internal tersebut. Sebagai contoh, jika suatu pemimpin perusahaan dihadapkan pada kondisi bahwa perusahaannya memiliki kelebihan dalam hal pengalaman dan kompetensi di bidang logistik namun memiliki kelemahan di bidang penguasaan teknologi, maka pemimpin perusahaan dapat merumuskan strategi kolaborasi dengan perusahaan penguasa teknologi untuk memberikan layanan-layanan logistik baru berbasis teknologi sebagai sumber revenue stream baru bagi perusahaan.

Perumusan strategi perubahan yang kontekstual dengan kelebihan dan kelemahan internal perusahaan memiliki kelebihan apabila dibandingkan dengan perubahan masif dengan cara merombak semua aspek perusahaan karena pendekatan ini jauh lebih cepat untuk diimplementasikan. Sebagai contoh, di Real Madrid, Jose Mourinho mengetahui bahwa kelebihan dari klub tersebut ada pada lini serangnya, sedangkan kelemahan dari klub tersebut ada pada sisi pertahanan. Berbekal akan hal tersebut, Jose Mourinho mengeksploitasi kekuatan utama dari penyerang-penyerangnya untuk melakukan serangan balik cepat. Kelemahan dari sisi pertahanan diatasi Jose Mourinho dengan memasang dua gelandang bertahan dalam diri Xabi Alonso dan Sami Khedira. Strategi counter attack yang dirumuskan berbasis kelebihan dan kelemahan internal Real Madrid ini dapat diimplementasikan secara cepat, sehingga Real Madrid dapat menjadi juara La Liga hanya di musim kedua Jose Mourinho. Beberapa pelatih lain terkadang mengambil pendekatan perubahan yang berbeda dengan merubah total dasar-dasar dari tim, seperti pemain, cara bermain, strategi dan lain-lainnya. Pada akhirnya pendekatan tersebut akan memerlukan waktu yang lama agar hasilnya terlihat. Mengingat pelatih klub sepakbola biasanya dievaluasi dalam periode waktu yang singkat, cara yang digunakan oleh Jose ini sangat efektif untuk diimplementasikan.

Serupa dengan yang dihadapi Jose, pemimpin perusahaan biasanya memiliki time frame yang sangat terbatas untuk melakukan perubahan di perusahaan. Apabila pemimpin perusahaan ngotot untuk melakukan perubahan secara masif dengan mengubah total beberapa aspek dari perusahaan, waktu yang diperlukan agar perubahan tersebut membuahkan hasil pasti akan lebih lama. Sebaliknya, jika pemimpin perusahaan merumuskan strateginya berbekal pada kekuatan dan kelemahan dari organisasi, waktu yang diperlukan agar perubahan yang diperlukan membuahkan hasil dapat dipangkas menjadi lebih singkat.

 

Man Management

Selain terkait dengan manajemen perubahan, hal utama lain yang ditekankan oleh Jose Mourinho untuk mengubah peruntungan dari beberapa klub yang dilatihnya adalah dengan mengubah mentalitas dari tim. Yang pertama dilakukan oleh Jose, dalam hal ini, adalah meningkatkan kepercayaan diri dari pemain-pemain yang dilatihnya. Jose Mourinho percaya bahwa untuk meraih kesuksesan, semua pemainnya harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak minder ketika bertemu dengan lawan-lawan pemain besar. Frank Lampard, John Terry, dan Didier Drogba memang merupakan pemain dengan kemampuan yang sangat baik. Meskipun demikian, ketika Jose Mourinho melatih, pemain-pemain tersebut bukan merupakan bintang kelas satu seperti halnya Zinedine Zidane, Luis Figo, dan lain sebagainya. Di sinilah kelebihan pertama dari Jose. Di bawah kepemimpinannya, Jose Mourinho mampu mengubah Frank Lampard, John Terry, dan Didier Drogba menjadi pemain dengan mentalitas super dimana masing-masing menjadi salah satu pemain tengah, pemain belakang, dan penyerang terbaik di dunia.

Pada konteks bisnis, hal utama yang dilakukan oleh Jose Mourinho sangat relevan diimplementasikan untuk mengubah peruntungan perusahaan. Pemimpin yang ditunjuk untuk membenahi perusahaan  yang kinerjanya tengah terpuruk dihadapkan dapat memotivasi seluruh karyawan untuk mengubah mentalitasnya. Sebagai contoh, jika sebelumnya perusahaan lebih dominan menjalankan business as usual, pemimpin yang baru harus dapat menyuntikkan mentalitas agar karyawan di perusahaan tersebut memiliki berani untuk berinovasi menciptakan produk, sistem, ataupun the way of doing business secara benar-benar baru.

Untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan dari pemain-pemain yang dilatihnya, Jose Mourinho menggunakan beberapa pendekatan yang sangat menarik. Yang pertama, Jose Mourinho memberikan contoh secara nyata mengenai definisi dari kepercayaan diri. Ketika pertama kali menangani Chelsea, dengan sangat percaya diri Jose Mourinho mendeklarasikan dirinya sebagai “the special one”. Bagi banyak orang, pernyataan Jose tentu kontroversial dan terkesan sombong. Meskipun demikian, hal tersebut dianggapnya penting karena dengan hal tersebut pemain-pemainnya akan merasa bahwa mereka dilatih oleh figur pelatih juara yang spesial. Kepercayaan diri yang dimiliki oleh Jose Mourinho, dalam hal ini, mampu ditularkannya kepada pemain-pemainnya dengan sangat baik.

Relevan dengan hal tersebut, pemimpin perusahaan dapat memberikan  teladan kepercayaan diri sebagaimana ketika Jose Mourinho mendeklarasikan dirinya sebagai The Special One. Beberapa pemimpin perusahaan terhebat seperti halnya Steve Jobs, Jeff Bezos, dan Bill Gates terkenal memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi dari pemimpin perusahaan dalam hal ini memiliki beberapa dampak positif. Yang pertama, kepercayaan diri pemimpin akan memberikan energi positif dan membakar semangat karyawan-karyawan di perusahaan. Yang kedua, kepercayaan diri pemimpin akan memberikan image yang baik dan meningkatkan tingkat kepercayaan investor untuk berinvestasi di perusahaan. Yang terakhir, kepercayaan diri pemimpin mampu menarik talenta-talenta terbaik untuk turut bergabung di perusahaan. Pada akhirnya, meningkatnya produktivitas karyawan, kepercayaan investor, dan bergabungnya talenta-talenta terbaik akan berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja perusahaan sesuai dengan konsep reinforcing feedback loop yang terjadi pada Amazon.

Yang kedua, Mourinho biasa menggunakan pendekatan personal untuk memotivasi pemainnya. Dalam hal ini, Jose Mourinho menganalisis karakteristik unik dari pemain-pemainnya dan memotivasinya secara tepat berdasarkan karakteristik unik tersebut. Kepada Didier Drogba, Jose Mourinho selalu mengatakan bahwa dirinya adalah striker terbaik yang pernah dia latih. Hal tersebut dilakukan Jose Mourinho karena dirinya mengetahui bahwa Didier Drogba sejatinya adalah pemain yang internally motivated. Karena sisi personal dan emosionalnya berhasil tersentuh, bagi Didier Drogba, Mourinho tidak hanya dianggap sebagai pelatih, namun juga sebagai sosok ayah dan sahabat. Tidak heran, Drogba merupakan pemain yang paling bersedih hati ketika Jose Mourinho harus meninggalkan Chelsea. Ikatan emosional yang kuat tersebut mampu memotivasi Drogba untuk selalu memberikan yang terbaik ketika bertanding. Didier Drogba dapat bertransformasi dari yang sebelumnya striker kelas biasa-biasa saja menjadi warrior fenomenal yang selalu bermain ngotot dan membenci kekalahan. Semuanya dilakukan untuk membuat Jose Mourinho bangga.

Pendekatan berbeda diterapkan oleh Jose Mourinho kepada menghadapi pemain yang cenderung tidak disiplin, less motivated, dan malas. Di Manchester United, Jose Mourinho menghadapi Anthony Martial. Martial merupakan pemain muda dengan talenta dan potensi yang luar biasa. Namun demikian, Anthony Martial tidak memiliki tingkat motivasi setinggi Didier Drogba. Dalam menghadapi Martial, Jose Mourinho melakukan pendekatan yang berbeda 360 derajat dibandingkan dengan yang diterapkannya ke Drogba. Jose Mourinho mengimplementasikan sistem punishment yang ketat kepada Martial. Jika sedang tidak bermain baik, Jose Mourinho tidak segan untuk mengkritik Martial di depan pers dan di depan teman-temannya.

Pendekatan man management secara tepat dan efektif yang digunakan oleh Jose Mourinho dapat diadopsi oleh management team perusahaan. Management team perusahaan diharapkan dapat memotivasi bawahannya dengan pendekatan yang tepat, sehingga karyawan dapat mengeluarkan potensi terbaik yang ada di dirinya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jose Mourinho kepada Didier Drogba, di konteks bisnis, management team harus dapat mengenali setiap individu bawahannya. Dalam hal ini, management team harus dapat mengenali, apakah bawahannya cenderung people tipe X atau tipe Y berdasarkan taksonomi Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor. Selain itu, management team juga harus mengenali level human needs yang ada di setiap individu karyawannya sesuai dengan Maslow’s Hierarchy of Needs. Dengan mengenali karakteristik unik dan kebutuhan dari setiap individu di bawahnya, management team dapat menerapkan treatment pemberian motivasi yang tepat.

Sebagai contoh, apabila management team mengenali bahwa karyawannya adalah internally motivated person, bertanggung jawab, dan menikmati pekerjaannya, maka management team dapat menerapkan man management secara lebih personal. Dalam hal ini, pemimpin dapat melonggarkan aspek supervisi dan teaching-based relationships. Pemimpin dapat lebih fokus untuk memberikan ruang kepercayaan bagi bawahannya untuk berkreasi dan melakukan inovasi. Dalam hal ini, pemimpin perusahaan dapat mengadopsi apa yang dilakukan Jose Mourinho terhadap Didier Drogba. Pendekatan secara personal ini selaras dengan implementasi Teori Y yang dikemukakan oleh Douglas McGregor dan teori motivasi yang diusulkan oleh Elton Mayo.

Di sisi lain, apabila management team perusahaan mengetahui bahwa karyawannya cenderung malas dan menghindari tugas, maka pemimpin tersebut dapat menerapkan pendekatan manajemen yang lebih ketat. Pemimpin harus  aktif melakukan supervisi kepada bawahan. Selain itu, pemimpin juga harus menerapkan sistem reward and punishment yang ketat. Pendekatan seperti yang diterapkan Jose Mourinho terhadap Anthony Martial dapat diadopsi pada konteks seperti ini. Hal ini merupakan implementasi Teori X yang dikemukakan Douglas McGregor dan scientific management usulan Frederick Taylor.

 

Result Oriented

Kelebihan lain yang dimiliki oleh Jose Mourinho adalah sikap pragmatisnya terhadap hasil. Bagi Jose Mourinho, football is all about winning matches. Oleh karena itu, bagi Jose, semua hal yang berkaitan dengan sepabola seperti transfer pemain, latihan, metode bermain, strategi, timing substitusi pemain, dan lain sebagainya semuanya ditujukan untuk meraih kemenangan. Jose Mourinho tidak terlalu peduli mengenai bagaimana kemenangan itu diperoleh. Dirinya tidak terlalu mempersoalkan apakah timnya bermain indah ataupun melalui permainan yang membosankan. Ketika di Real Madrid, Jose Mourinho pernah memasang enam pemain bertahan untuk menghadapi Barcelona. Strategi tersebut tidak populer bagi fans Madrid yang menyukai sepak bola menyerang. Namun, bagi Jose Mourinho, hal tersebut tidak masalah selama akhirnya timnya mampu memetik kemenangan. Bottomline dari sepakbola, menurut versi Jose Mourinho, adalah kemenangan dan dirinya akan melakukan hal apa pun (dalam artian positif) untuk meraihnya.

Fokus kepada ultimate goal merupakan aspek yang sering dilupakan oleh management team suatu perusahaan. Di tengah banyaknya kumpulan indikator kinerja, pengelola perusahaan sering terjebak pada sasaran antara dan bukan pada ultimate goal. Pergeseran sistem manajemen kinerja dari yang sebelumnya murni berbasis kepada financial accounting menjadi berbasis pada balanced indicators yang ditandai dengan lahirnya beberapa performance management system frameworks seperti the Balanced Scorecard, the Performance Prism, dan lain sebagainya membuat management team  harus melihat banyak dimensi kinerja secara bersamaan. Dalam hal ini, management team menjadi sulit untuk fokus pada bottomline atau ultimate goal dari perusahaan. Oleh karena itu, perspektif untuk fokus terhadap results dan bottomline merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan, dalam hal ini, dapat mengadopsi fokus terhadap results yang selalu dimiliki oleh Jose Mourinho di dunia sepak bola.

Agar dapat mengelola perusahaan secara efektif, pemimpin perusahaan dituntut untuk mampu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi bottomline serta menganalisis hubungan kausal antara beberapa faktor tersebut dengan ultimate goal dari perusahaan. Sebagai contoh, jika ultimate goal dari perusahaan adalah untuk meningkatkan financial profit, pemimpin perusahaan dituntut untuk menganalisis beberapa drivers dari financial profit tersebut seperti volume penjualan, harga jual, volume bahan baku, harga bahan baku, volume expense, harga expense, dan lain sebagainya. Setelah drivers diketahui, pemimpin dituntut untuk mampu menganalisis dan memodelkan hubungan dari beberapa drivers tersebut terhadap ultimate goals yang berupa financial profit. Dalam hal ini, setiap keputusan yang diambil harus ditujukan untuk mendukung peningkatan financial profit. Sebagai contoh, apabila pemimpin dihadapkan pada usulan program untuk meningkatkan tingkat kebahagiaan karyawan, pemimpin harus dapat menganalisis apakah program yang diusulkan tersebut ke depan akan mampu menunjang ultimate goal dari perusahaan atau tidak. Jika dengan meningkatnya tingkat kebahagiaan karyawan produktivitas kerja akan meningkat, sehingga produk yang dijual dapat lebih banyak, revenue meningkatdan ultimate-nya financial profit meningkat, maka pemimpin dapat menyetujui usulan profit tersebut. Jika program yang diusulkan pada akhirnya justru menjadi beban bagi financial profit yang merupakan ultimate goal dari perusahaan, maka setinggi apapun tingkat kebahagiaan karyawan, pemimpin perusahaan harus dapat menolak usulan program tersebut. Jika Jose Mourinho berpikir bahwa football is all about winning matches, maka pemimpin perusahaan yang berorientasi ke keuntungan harus selalu berpikir bahwa business is all about making money.

Beberapa hal yang dibahas menunjukkan bahwa pendekatan kepelatihan yang diterapkan oleh Jose Mourinho dalam bidang sepak bola ternyata sangat relevan untuk diterapkan pada konteks manajemen perusahaan. Tantangan yang dihadapi oleh Jose Mourinho ketika dituntut untuk mampu memenangkan juara di Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid dapat dihadapi oleh setiap pemimpin perusahaan ketika dituntut untuk membalikkan keadaan perusahaan dari yang sebelumnya berkinerja buruk menjadi baik. Pendekatan change management yang diterapkan oleh Jose Mourinho dengan mengeksploitasi kelebihan pemain, menambal kelemahan tim, dan menyusun strategi permainan berbekal pada kelebihan dan kekurangan tersebut dapat diadopsi oleh pemimpin perusahaan ketika merumuskan improvement strategy. Selain itu, pendekatan man management yang diterapkan oleh Jose Mourinho juga dapat diterapkan oleh manajer perusahaan di semua level untuk memotivasi kinerja bawahannya. Yang terakhir, filosofi result oriented yang selalu dianut Jose Mourinho juga relevan untuk diadopsi agar perusahaan dapat fokus pada ultimate goal-nya.

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.