Mengaplikasikan Penelitian secara Tepat untuk Menunjang Keputusan Bisnis yang Efektif

 

Penelitian merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam bidang bisnis. Dengan melakukan penelitian, praktisi bisnis bisa memahami fenomena dan permasalahan bisnis secara lebih baik. Selain itu, penelitian juga membantu praktisi bisnis untuk mengidentifikasi penyebab permasalahan bisnis secara lebih terukur. Yang paling penting, penelitian dapat membantu untuk menunjang pengambilan keputusan yang efektif. Rangkaian metode yang digunakan pada penelitian, dalam hal ini, membantu praktisi bisnis untuk memahami permasalahan dan merumuskan langkah-langkah bisnis dengan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan feeling, instinct, dan sensing.

Meskipun demikian, sayangnya saat ini masih banyak praktisi yang tidak menggunakan penelitian secara optimal untuk menunjang pengambilan keputusan bisnis. Penelitian, dalam hal ini, identik dengan rangkaian aktivitas yang rumit dan memakan waktu lama. Oleh karena itu, sebagian besar praktisi bisnis saat ini lebih mengandalkan feeling dan instinct dalam menunjang pengambilan keputusan. Jika pun menggunakan penelitian, beberapa praktisi sebagian besar masih menggunakan konsep penelitian yang tidak sepenuhnya sesuai dengan konteks yang dihadapi.

Fenomena yang ada menunjukkan bahwa pengaplikasian penelitian masih menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan praktisi bisnis. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini dibuat untuk menjelaskan konsep-konsep penting dari penelitian bisnis. Melalui tulisan ini, pembaca diharapkan dapat memahami beberapa jenis reasoning, filosofi, jenis, metode, dan teknis analisis pada penelitian bisnis. Pemahaman yang baik mengenai beberapa hal tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengaplikasikan penelitian secara tepat guna mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih efektif.

Untuk dapat melakukan penelitian secara benar, hal paling utama yang perlu dipahami adalah terkait dengan dasar-dasar reasoning. Reasoning merupakan cara kita berpikir mengenai sesuatu secara logis berdasarkan fakta yang ada. Pada konteks penelitian bisnis, dua jenis reasoning yang sering digunakan adalah induktif dan deduktif. Induktif merupakan jenis reasoning yang bersifat bottom-up dimana kesimpulan akhir merupakan hipotesis yang dibangun berdasarkan premis yang ditemukan di lapangan. Kebalikan dari induktif adalah deduktif. Jika induktif diawali dari premis atau fakta di lapangan, induktif dimulai dari general statement atau teori.

Sebagai praktisi bisnis, kita dapat menggunakan kedua jenis reasoning yang ada untuk melakukan penelitian guna meningkatkan kinerja perusahaan. Sebagai contoh, apabila kita memiliki bisnis sebagai pembuat dan penjual sepatu olah raga, inductive reasoning dapat diterapkan dengan terlebih dahulu mengumpulkan data/fakta mengenai karakteristik dari sepatu yang digunakan oleh beberapa atlet. Jika hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa Sadio Mane, Lucas Moura, Aubameyang, Mohamed Salah, Sterling, dan Marcus Rashford menyukai produk dengan karakteristik A dan kita mengetahui bahwa beberapa atlet tersebut merupakan pesepakbola dengan lari cepat yang bermain di Liga Inggris, maka kesimpulan yang dapat diambil dengan menggunakan inductive reasoning adalah semua pesepakbola dengan lari cepat yang bermain di Liga Inggris menyukai sepatu dengan karakteristik A. Sebagai penjual sepatu bola, kita dapat memproduksi sepatu dengan karakteristik A dan memasarkannya di segmen pesepakbola dengan kemampuan lari cepat yang bermain di Liga Inggris. Hasil dari upaya ini tentu akan lebih efektif jika dibandingkan dengan upaya memproduksi sepatu sepak bola dengan karakteristik B di segmen tersebut atau kita memasarkan sepatu sepak bola dengan karakterisik A di segmen yang lain.

Disamping induktif, sebagai produsen dan penjual sepatu olah raga kita juga dapat menggunakan deductive reasoning untuk meningkatkan kinerja bisnis. Sebagai contoh, apabila kita membaca teori bahwa pemain sepak bola dengan tinggi di bawah 175 cm cocok untuk menggunakan sepatu dengan karakteristik X, maka kita dapat mengoptimalkan produksi sepatu bola dengan karakteristix X tersebut dan memasarkannya ke pemain-pemain di wilayah Indonesia. Menerapkan strategi ini tentu akan lebih efektif apabila dibandingkan dengan menjual sepatu dengan karakteristik X ke area Eropa dimana pemain bolanya rata-rata memiliki tinggi badan di atas 175 cm.

Selain dasar reasoning, hal penting lain yang perlu diketahui adalah terkait dengan filosofi penelitian. Meskipun filosofi penelitian ada beberapa macam, dua filosofi yang paling populer adalah positivism dan interpretivism. Filosofi positivism memandang bisnis (sebagai salah satu cabang dari social science) sama seperti natural science. Dalam hal ini, filosofi positivism berpandangan bahwa kebenaran merupakan suatu hal yang tunggal dan universal, sehingga penelitian ini berfokus pada generalisasi. Pada filosofi ini, fenomena bisnis yang terjadi pada suatu konteks diasumsikan dapat dijelaskan dan diselesaikan dengan pendekatan yang sebelumnya pernah ditemukan di waktu dan lokasi yang lain. Sebagai contoh, jika terdapat teori bisnis yang menyatakan bahwa pemberian insentif finansial akan mendorong peningkatan kinerja karyawan, maka praktisi bisnis yang menganut paham positivism akan berpandangan bahwa teori tersebut berlaku  universal dan dapat diterapkan di mana pun dan kapan pun. Oleh karena itu, praktisi bisnis tersebut dapat langsung menerapkan dan menguji teori tersebut di perusahaannya dengan cara memberikan insentif finansial untuk mendorong kinerja karyawan. Generalisasi teori bisnis ini menyerupai teori relativitas Einstein di natural science yang dapat diterapkan di mana pun dan kapan pun di dunia ini.

Kebalikan dari filosofi positivism adalah interpretivism yang memandang konteks sebagai suatu hal yang sangat penting di bidang bisnis. Berdasarkan filosofi ini, kebenaran bisnis merupakan suatu hal yang bersifat subyektif yang dibentuk berdasarkan konsensus masyarakat di suatu konteks. Sebagai contoh, satu minuman teh dapat dipersepsikan secara berbeda oleh masyarakat di negara yang berbeda. Di China, teh dipandang sebagai suatu hal yang religius dan kultural. Sementara itu, di negara lain teh dapat dipandang sebagai minuman kasual yang menyegarkan. Sebagai praktisi bisnis yang memproduksi dan menjual teh, maka apabila kita menganut filosofi interpretivism, kita akan melakukan penelitian untuk memeriksa persepsi masyarakat di suatu wilayah terkait dengan teh tersebut. Apabila hasil penelitian kita menunjukkan bahwa teh dianggap sebagai suatu hal yang kasual, maka kita dapat memproduksi teh dengan rasa yang menyegarkan seperti lemon tea, chamomile, green tea, dan lain sebagainya. Hasil ini tentu akan lebih produktif dibandingkan dengan jika kita menjual relaxing tea  di negara yang menganggap teh sebagai suatu hal yang sakral.

Selain filosofi penelitian, kita juga perlu mengetahui beberapa tipe penelitian dan situasi dimana tipe penelitian tersebut sesuai untuk digunakan. Tiga tipe penelitian yang umum digunakan adalah exploratory, explanatory, dan descriptive researches. Exploratory research merupakan penelitian tahap awal yang ditujukan untuk mengklarifikasi dan mendefinisikan suatu fenomena yang masih ambigu. Sebagai contoh, dewasa ini kita mengetahui bahwa makanan dan minuman sehat cukup digemari di negara-negara maju. Meskipun demikian, fenomena awal menunjukkan bahwa bisnis makanan dan minuman sehat ternyata masih cukup struggling di kawasan berkembang. Penelitian exploratory, dalam hal ini, dapat dilakukan untuk mengetahui mengapa bisnis makanan dan minuman sehat belum terlalu diminati di wilayah-wilayah yang belum maju. Apabila hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan belum digemarinya makanan dan minuman sehat di wilayah yang belum maju adalah terkait dengan harganya yang dipersepsikan masih mahal, maka praktisi bisnis dapat membuat produk sehat yang komposisinya disesuaikan, sehingga harganya lebih terjangkau oleh masyarakat di wilayah tersebut.

Sementara itu, penelitian explanatory merupakan jenis penelitian yang ditujukan untuk menguji hubungan cause and effect suatu teori atau hipotesis. Sebagai contoh, apabila terdapat teori yang menyatakan bahwa fitur free delivery akan meningkatkan penjualan suatu online shop secara signifikan, maka praktisi bisnis dapat menguji kebenaran dari teori tersebut di online shop yang dikelolanya dengan cara memberikan fitur free delivery dan mengimplementasikan strategi pricing produk secara eksperimental, sehingga akhirnya diketahui harga produk yang memberikan return terbaik bagi perusahaan.

Di luar exploratory dan explanatory, tipe penelitian lain yang kerap dipakai adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan karakteristik dari suatu object, people, group, organisasi, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, praktisi bisnis dapat menggunakan penelitian deskriptif untuk mengetahui karakteristik dari pelanggan utama produknya. Apabila diketahui bahwa deskripsi pelanggan utama dari produk perusahaan adalah anak-anak muda dengan usia kurang dari 20 tahun dan sering mengakses media sosial, maka perusahaan dapat menerapkan strategi promosi produk dengan merekrut bintang K-Pop sebagai endorser produk perusahaan di Instagram. Keputusan bisnis promosi di media sosial yang didasarkan pada hasil penelitian deskriptif sederhana ini tentu akan lebih efektif jika dibandingkan dengan strategi dimana perusahaan memilih untuk melakukan promosi produk di majalah bisnis.

Penjelasan mengenai dasar reasoning, filosofi, dan tipe penelitian dapat menuntun kita untuk menentukan jenis penelitian yang akan diterapkan. Setelah hal tersebut ditetapkan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan pertanyaan tersebut? Dua hal dari penelitian yang dapat menuntun praktisi bisnis untuk dapat melakukan penelitian secara baik adalah dengan memahami research design dan research method.

Research design merupakan rancangan mengenai bagaimana penelitian akan dilakukan. Terdapat beberapa jenis research design. Yang pertama, kita mengetahui research design berupa survey. Survey, dalam hal ini, cocok digunakan apabila praktisi bisnis ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh responden. Contoh dimana survey sesuai untuk digunakan antara lain adalah untuk mengetahui persepsi pelanggan mengenai tingkat kepuasan layanan perusahaan, deskripsi fitur yang dipandang menarik bagi konsumen, motivasi pelanggan untuk merekomendasikan produk perusahaan, dan lain sebagainya. Pada intinya, survey sesuai untuk digunakan jika peneliti hanya ingin menangkap apa yang dipikirkan oleh responden dan tidak ingin melakukan kontrol terhadap apa yang dipikirkan oleh responden tersebut.

Selain survey, kita mengenal ada research design berupa eksperimen. Berbeda dengan survey dimana peneliti tidak bisa melakukan kontrol terhadap apa yang dipikirkan oleh responden, pada eksperimen peneliti dapat melakukan kontrol dan intervensi terhadap suatu variabel, sehingga peneliti bisa mengamati perbedaan tanggapan dari responden ketika suatu controlled variable diubah nilainya. Sebagai contoh, praktisi bisnis yang ingin mengembangkan suatu aplikasi seperti instagram (instagram-like) bisa melakukan eksperimen untuk mengetahui perbedaan engagement level pengguna aplikasi apabila salah satu fitur pada aplikasi tersebut diubah nilainya. Secara lebih detail, peneliti tersebut bisa menggunakan eksperimen untuk mengetahui apakah rata-rata durasi watu pemakaian aplikasinya meningkat jika fitur chatting ditambahkan pada aplikasi tersebut. Dalam hal ini, penambahan fitur chatting merupakan intervensi yang dilakukan. Peneliti dapat menggunakan beberapa uji statistik seperti t-test untuk membandingkan apakah perbedaan rata-rata waktu akses pengguna aplikasi berbeda secara signifikan setelah fitur chatting ditambahkan atau tidak. Hasil dari eksperimen ini pada akhirnya dapat menjadi input yang sangat berguna bagi pengembang aplikasi untuk memutuskan apakah aplikasi Instagram-like tersebut akan diberikan fitur chatting atau tidak.

Jenis research design ketiga yang dapat digunakan oleh praktisi bisnis adalah case study. Jenis ini sangat populer digunakan di kalangan praktisi. Case study merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengamati fenomena kontemporer dengan menggunakan sampel kecil secara mendalam. Pada case study, peneliti tidak melakukan kontrol terhadap satu atau beberapa variabel. Yang dilakukan oleh peneliti, dalam hal ini, hanyalah mengamati mengenai fenomena yang terjadi. Sebagai contoh, praktisi bisnis yang ingin merintis bisnis transportasi online dapat menggunakan research design berupa case study untuk mengetahui perbedaan strategi dua perusahaan transportasi online eksisting dalam menarik partisipasi driver untuk bergabung di dalam platform-nya. Dengan teknik cross case analysis, praktisi bisnis dapat mengetahui bahwa perusahaan A ternyata merekrut driver dengan strategi piggybacking dan perusahaan B menggunakan strategi insentif finansial (cash burn). Melalui case study ini, praktisi bisnis dapat memahami dan menarik kesimpulan mengenai strategi yang lebih efektif untuk diterapkan di perusahaannya kelak.

Selain case study, jenis research design yang cukup populer di kalangan praktisi bisnis adalah action research. Tidak seperti case study yang variabelnya tidak bisa dikontrol oleh penelitipada action research peneliti dapat terlibat langsung untuk melakukan intervensi suatu variabel bisnis. Sebagai contoh, setelah mengetahui bahwa tokonya mengalami permasalahan penurunan volume penjualan, praktisi bisnis dapat menggunakan action research untuk mengetahui apakah intervensi berupa pemberian diskon dapat mengembalikan volume penjualan seperti sedia kala. Hasil dari action research ini selain untuk menangani permasalahan yang sedang dihadapi juga bermanfaat untuk digunakan sebagai rujukan pengambilan keputusan bisnis di masa yang akan depan.

Beberapa research designs yang telah dijelaskan ini dapat diterapkan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data dan metode analisis. Dari sisi teknik pengumpulan data, kita mengenal adanya interview, kuesioner, Focus Group Discussion (FGD), lab simulation, dan document study. Dari sisi metode, kita mengenal adanya metode penelitian kuantitatif dan kualitatitf. Metode penelitian kuantitatif erat kaitannya dengan angka, sedangkan metode penelitian kualitatif berhubungan dengan kata, gambar, simbol, dan lain sebagainya.

Untuk menunjang pengambilan keputusan, praktisi bisnis dapat menggunakan beberapa teknik analisis seperti analisis korelasi, analisis sebab akibat, dan analisis faktor. Praktisi bisnis dapat menggunakan analisis korelasi untuk mengetahui tingkat keterhubungan antara beberapa variabel. Sebagai contoh, praktisi bisnis dapat mengetahui hubungan antara frekuensi pelatihan dengan produktivitas karyawan dengan menggunakan analisis korelasi. Apabila hasil analisis menunjukkan bahwa produktivitas karyawan ternyata berbanding lurus dengan frekuensi pelatihan yang diikutinya, maka salah satu keputusan yang dapat diambil oleh praktisi bisnis adalah dengan menambah jam pelatihan karyawan.

Praktisi bisnis dapat menggunakan analisis sebab akibat untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara beberapa variabel. Beberapa teknik analisis sebab akibat yang umum digunakan antara lain adalah analisis regresi dan analisis Structural Equation Modeling (SEM). Sebagai contoh, praktisi bisnis dapat menggunakan analisis regresi sederhana untuk mengetahui berapa persen derajat peningkatan kinerja karyawan apabila insentif finansial karyawan dinaikkan sebesar 10%. Bagi praktisi bisnis, analisis ini dapat bermanfaat untuk menunjang pengambilan keputusan terkait aloksi dana, khususnya dalam memilih dan me-ranking program kerja yang akan memberikan manfaat terbesar bagi perusahaan.

Disamping analisis korelasi dan sebab akibat, praktisi bisnis dapat menggunakan analisis faktor untuk mereduksi banyak variabel ke dalam beberapa kelompok. Sebagai contoh, atribut suatu mobil yang menentukan keputusan pembelian pelanggan sangat banyak seperti kecepatan, harga bentuk, desain kursi, image, dan lain sebagainya. Membuat mobil yang bersifat all-round dan dapat memenuhi semua ekspektasi pelanggan terhadap atribut-atribut tersebut tentu sangat sulit. Untuk menyederhanakan atribut, praktisi bisnis dapat menggunakan analisis faktor untuk mengelompokkan atribut-atribut tersebut ke dalam tiga kelompok besar seperti Ergonomic, Luxury, dan Functionality. Selanjutnya, peneliti bisnis dapat membuat varian produk yang memiliki specialty di salah satu dari ketiga group atribut tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa analisis faktor dapat menjadi sangat bermanfaat untuk menunjang keputusan product development.

Beberapa hal yang telah dijelaskan tersebut menunjukkan bahwa penelitian bisnis sangat bermanfaat untuk menunjang pengambilan keputusan bisnis.  Untuk dapat mengaplikasikan penelitian secara tepat, praktisi bisnis dituntut untuk menguasai tiga hal. Yang pertama, praktisi bisnis dituntut untuk memahami dasar-dasar reasoning, filosofi penelitian, tipe penelitian, research design, dan metode penelitian. Yang kedua, peneliti bisnis dituntut untuk menghadapi konteks permasalahan bisnis yang dihadapinya. Setelah memahami konsep dasar penelitian dan konteks permasalahan bisnis yang dihadapi, praktisi bisnis dituntut untuk dapat memadukan keduanya secara tepat dan efektif. Apabila praktisi bisnis dapat memilih jenis reasoning, filosofi, tipe penelitian, research design, dan metode yang sesuai dengan konteks permasalahan bisnis yang dihadapinya, maka penelitian yang dilakukannya kemungkinan besar akan dapat mendukung pengambilan keputusan bisnis secara lebih efektif. Pada tulisan ini, beberapa atribut penting dari penelitian bisnis telah diuraikan. Selain itu, konteks permasalahan bisnis yang sesuai untuk masing-masing atribut penelitian juga telah dielaborasi. Harapannya, tulisan ini dapat digunakan sebagai panduan awal bagi praktisi bisnis untuk dapat mengaplikasikan penelitian secara tepat, sehingga pada akhirnya dapat mendukung pengambilan keputusan bisnis secara lebih efektif.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.