Crash Landing (Because of) You

 

Baru-baru ini, dunia dihebohkan dengan fenomena luar biasa bernama Covid 19 yang dampaknya sangat masif dan viral. Selain berdampak kepada kepanikan individu, virus tersebut juga telah mempengaruhi pasar saham. Dalam satu bulan terakhir, indeks Dow Jones dan indeks S&P masing-masing telah turun lebih dari 20% dan 30%,  Pada bursa Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga telah turun kurang lebih 20%.  Emosi pelaku pasar dari hari ke hari seperti diguncang ke sana kemari. Dalam satu hari, index dow jones dapat naik atau turun dalam rentang waktu ~10%. CBOE Volatility Index atau VIX yang merupakan indikator untuk mengukur volatilitas harga di pasar menunjukkan penguatan lebih dari 300% dalam rentang waktu satu bulan ini.

Mood swing pelaku pasar, dalam hal ini, menyerupai perasaan wanita ketika mengikuti romantisme berliku antara Hyun Bin dan Son Ye-Jin dalam Drama Korea (Drakor) populer bernama Crash Landing on You. Jika dalam satu hari perasaan seorang wanita dapat sangat sedih apabila cerita pada drakor tersebut sangat melankolis, maka emosi pelaku pasar yang didominasi oleh pria juga dapat sama sentimentilnya ketika harga saham jatuh. Di sisi lain, jika wanita dapat sangat bahagia apabila menyaksikan romantisme antara Hyun Bin dan Son Ye-Jin, maka pelaku pasar juga dapat sama girangnya ketika mengetahui adanya news development terkait Covid 19 yang berdampak baik buat market.

Sebagai investor atau trader yang cool headed, kita tentu dituntut untuk dapat menganalisis segala sesuatu secara rasional dan tidak terjebak pada fluktuasi emosi. Dalam hal ini, untuk dapat memahami dengan baik bagaimana suatu unexpected event seperti halnya Covid 19 ini mempengaruhi market, kita dituntut untuk dapat menganalisis hubungan sebab akibat antara Covid 19 dengan kondisi perekenomian mikro dan makro. Selain itu, kita  juga dituntut untuk dapat mengukur dampak dari pengaruh Covid 19 terhadap skala pergerakan harga saham. Dengan membekali diri dengan kedua hal ini, rational investor tidak akan mudah terjebak pada alasan-alasan yang kurang substantiated yang pada akhirnya akan memporak-porandakan keputusan investasi kita. So, bagaimana kah hubungan sebab akibat antara Covid 19 dengan harga saham serta fluktuasinya di pasar? Here we go.

Mengapa Harga Saham Turun Akibat Covid 19?

Untuk menganalisis pengaruh dari Covid-19 terhadap penurunan harga saham di pasar, konsep utama yang paling penting untuk dipahami adalah pasar selalu mengantisipasi future condition. Pada konteks ini, harga saham yang ada di pasar merupakan leading indicator. Apabila harga saham saat ini turun jatuh, maka yang terjadi adalah pasar sedang melakukan priced in mengenai potensi penurunan ekonomi dan keuntungan perusahaan di masa yang akan datang. Dalam hal ini, pasar mempersepsikan bahwa Covid-19 dapat berdampak pada perubahan perilaku orang  yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perekonomian mikro dan makro. Hubungan antara Covid-19 dengan kondisi perekonomian global dan keuntungan perusahaan dapat ditransmisikan melalui beberapa variabel antara.

Yang pertama dan yang paling terasa, Covid-19 berdampak pada turunnya frekuensi perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang di seluruh dunia. Covid-19, dalam hal ini, menyebabkan kekhawatiran beberapa individu, sehingga orang-orang cenderung membatasi atau menunda perjalanan. Hasil ini semakin meningkat dengan adanya pembatasan atau bahkan lockdown di beberapa kota di dunia. Penurunan frekuensi travel ini berdampak kurang baik bagi kinerja beberapa industri yang berkaitan erat dengan travel seperti airlines, hotel, tourism, dan entertainment. Di industri penerbangan, Delta Airlines melaporkan bahwa Covid 19 telah menyebabkan penurunan net booking pelanggan pesawat tersebut sebesar 15%. Karena frekuensi travel berkorelasi langsung dengan tingkat revenue suatu airlines, maka apabila frekuensi travel menurun, peluang bahwa revenue suatu airlines untuk turun juga sangat tinggi. Berdasarkan hal ini, maka dapat dipahami apabila dalam satu bulan terakhir nilai dari Dow Jones U.S. Airlines Index turun kurang lebih 40%.

Kondisi yang sama juga terjadi pada industri  parwisata. Penutupan beberapa lokasi wisata seperti Disney Park, Universal Studio, dan beberapa objek wisata lain juga menyebabkan turunnya revenue perusahaan-perusahaan tersebut. Laporan CNN menyebutkaan bahwa penututan Disney Theme Park di China berpotensi merugikan perusahaan tersebut kurang lebih USD 280 Juta pada kuarter ini. Kondisi ini diperburuk dengan konsep bahwa industri pariwisata juga memiliki beberapa industri turunan. Yang pertama, pariwisata berkaitan erat dengan industri hotel. Apabila jumlah turis menurun, maka pendapatan hotel berpotensi besar untuk turun. Yang kedua, pariwisata juga berkaitan erat dengan industri makanan, minuman, produksi souvenir, dan entertainment. Penurunan jumlah pengunjung pariwisata, dalam hal ini, juga berpotensi besar menyebabkan turunnya industri tersebut. Di Indonesia, industri travel dan pariwisata berkontribusi kurang lebih ~7% terhadap GDP Nasional. Mengingat porsinya yang cukup besar, maka apabila industri tersebut turun, pertumbuhan GDP suatu negara juga berpotensi terhambat.

Selain memukul sektor transportasi dan pariwisata, penurunan frekuensi juga berpotensi memiliki dampak negatif  ke sektor energi. Selama ini, salah satu driver dari demand terhadap energi seperti halnya oil adalah demand dari sektor transportasi. Apabila demand dari sektor transportasi turun dan produksi energi tetap, maka harga oil berpotensi untuk turun. Hal ini dapat menjelaskan mengapa dalam satu bulan terakhir harga minyak dunia seperti WTI dan Brent turun sangat signifikan dengan tingkat penurunan pada kisaran 40%. Penurunan tersebut, dalam hal ini, disebabkan oleh potensi turunnya demand terhadap oil akibat Covid, namun di sisi lain terdapat beberapa negara yang dominan memproduksi minyak memutuskan untuk tidak membatasi oil supply. Sebagai akibatnya, saat ini harga saham beberapa oil majors seperti halnya Shell, Exxon, dan Chevron masing-masing telah jatuh kurang lebih 48%, 36%, dan 25%  dalam beberapa satu bulan terakhir.

Selain dari sisi frekuensi travel, Covid 19 juga berpotensi mendisrupsi supply chain manufaktur dan jasa. Selama ini, globalisasi telah membuka border dari supply chain dunia. Pada sisi supply, suatu perusahaan dapat bergantung dari pasokan dari perusahaan lain yang ada di negara yang berbeda. Di sisi lain, pada sisi demand suatu perusahaan juga dapat bergantung kepada perusahaan yang ada di negara lain untuk menyerap produk atau jasanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini negara-negara yang saat ini teridentifikasi terjangkit Covid 19 merupakan negara-negara besar yang mempengaruhi supply chain di dunia. Lockdown dan karantina suatu kota, dalam hal ini, akan menyebabkan terputusnya rantai pasok manufaktur dan jasa dari dan ke kota tersebut. Apabila kota tersebut adalah sumber pasokan, maka perusahaan lain di penjuru dunia yang berbeda harus mencari sumber pasokan lain. Scarcity pasokan dalam hal ini dapat menyebabkan naiknya harga bahan baku, sehingga pada akhirnya menggerus profit suatu perusahaan. Di sisi lain, apabila kota yang dikarantina tersebut adalah sumber demand, maka hal tersebut berimplikasi pada turunnya demand akan suatu produk atau jasa. Hal ini pada akhirnya akan menurunkan revenue dan profit perusahaan.

Pada konteks bisnis, Covid 19 juga dapat berimplikasi pada turunnya pasokan tenaga. Dalam beberapa waktu terakhir, kita mengetahui bahwa untuk mencegah penyebaran yang lebih luas terhadap Covid 19, beberapa institusi telah menerapkan kebijakan work from home atau kebijakan business activity freeze selama beberapa waktu. Hal ini paling tidak berimplikasi pada dua hal. Bagi perusahaan, pembatasan model kerja tersebut pada akhirnya akan menurunkan produktivitas, sehingga pada akhirnya menggerus bottomline perusahaan. Bagi sisi demand, pembatasan kerja tersebut berpotensi menyebabkan turunnya tingkat penghasilkan karyawan yang pada akhirnya berpotensi menyebabkan turunnya demand akan suatu produk atau jasa.

Secara keseluruhan, Covid 19 memang berdampak masif terhadap beberapa sektor. Berdasarkan hal tersebut, maka tidak heran apabila dalam beberapa waktu terakhir harga saham dan komoditas di pasar bergerak turun signifikan. Penurunan harga-harga saham dan komoditas tersebut merupakan antisipasi dari memburuknya kinerja perusahaan dan perekonomian global yang disebabkan oleh Covid 19 ini. Hal ini merupakan penjelasan fundamental dari turunnya harga-harga saham di pasar ketika fenomena Covid 19 mengemuka.

Di luar beberapa aspek fundamental tersebut, penurunan harga saham yang masif di pasar juga banyak ditunjang oleh fear dari pelaku pasar itu sendiri. Penurunan suatu harga saham di luar pola-pola umum pada umumnya akan men-trigger stop loss yang dipasang oleh beberapa traders. Karena stop loss tersebut tereksekusi, imbasnya tekanan jual terhadap suatu saham semakin besar. Hal tersebut semakin menguatkan penurunan harga saham dalam suatu reinforcing feedback loop. Fenomena ini lah yang menyebabkan harga saham dapat turun sangat drastis dalam periode waktu yang sangat singkat.

 

Sampai Seberapa Dalam Pasar Saham Akan Turun Akibat Covid 19?

Setelah secara umum diketahui bahwa Covid 19 berimplikasi kurang baik buat kinerja perusahaan dan harga saham, maka pertanyaan besar selanjutnya adalah sampai pada level mana harga-harga saham akan turun? Apakah harga-harga saham saat ini telah murah sehingga layak dikoleksi? Well, jawaban dari pertanyaan yang kedua ini tidak semudah dari pertanyaan pertama. Menganalisis hubungan antara covid 19 terhadap penurunan kinerja perusahaan dan harga saham hanya memerlukan analisis sebab akibat yang tidak terlalu rumit. Sementara itu, mengukur seberapa besar dampak dari Covid 19 terhadap pergerakan harga saham sifatnya lebih kompleks karena sangat bergantung pada beberapa variabel yang sulit diukur. Dua jenis pelaku pasar seperti value investor dan traders akan menyikapi hal ini dengan dua pendekatan yang berbeda.

Beberapa value investor dapat mengemukakan bahwa jawaban terhadap pertanyaan tersebut dapat mudah dilakukan dengan membandingkan harga saham saat ini dengan nilai intrinsik perusahaan. Pada umumnya, kategori investor ini akan membandingkan harga saham saat ini dengan beberapa indikator seperti book value, liquid asset, working capital, projected cash flow, dan lain sebagainya. Apabila harga saham yang ada di pasar saat ini lebih rendah dari beberapa indikator tersebut, maka value investor akan mengemukakan bahwa harga saham sedang undervalued, sehingga layak dikoleksi.

Meskipun pola pikirnya cukup berdasra, metode ini tidak lepas dari kelemahan. Yang paling utama, indikator seperti book value, working capital, dan lain sebagainya yang digunakan sebagai variabel pembanding dari harga saham merupakan variabel yang nilainya dihasilkan dari kondisi tanpa Covid 19. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya membandingkan antara harga saham yang sudah priced in beberapa dampak negatif dari Covid 19 dengan variabel seperti book value dan lain-lain yang belum mempertimbangkan dampak negatif dari Covid 19 adalah metode yang kurang pas. Agar pembandingnya bersifat apple-to-apple, book value, working capital, projected cash flow, dan sebagainya harus dihitung juga dengan mempertimbangkan dampak dari Covid 19 terhadap perusahaan. Hal ini tentu tidak mudah, karena pengukuran skala dampak dari Covid 19 terhadap company’s future earning belum bisa diukur dengan pasti selama fenomena penyebaran Covid 19 belum teratasi (atau mungkin dibatasi).

Sebagaimana value investors, technical trader – yang merupakan jenis pelaku pasar kedua – juga mengalami kesulitan untuk mengukur apakah harga yang saat ini ada di pasar sudah sepenuhnya priced in dampak negatif dari Covid 19. Bagi technical trader, harga yang ada di pasar merupakan refleksi semua dari beberapa variabel yang mempengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, technical trader pada umumnya hanya akan membeli saham ketika memiliki persepsi bahwa harga saham yang ada di pasar telah memenuhi kriteria market bottom. Yang menjadi permasalahan, titik bottom dari suatu harga ini juga merupakan uncharted territory karena kejadian seperti halnya Covid 19 ini belum pernah terjadi sebelumnya. Yang umum dilakukan, technical trader biasanya akan merujuk ke fenomena crash seperti halnya kejadian subprime mortgage pada tahun 2008 atau crash pada tahun 1987 dan 1929. Issues yang terjadi di sini adalah fenomena Covid 19 ini belum tentu sama dengan beberapa historical crash yang terjadi sebelumnya. Berdasarkan hal ini, technical trader juga terpapar risiko terombang-ambing.

 

Mengapa Covid 19 Menimbulkan Volatilitas Harga?

Seperti di dalam Crash Landing on You, volatility yang demikian lebarnya di pasar juga disebabkan oleh faktor ketidakpastian. Intrik dan kisah romantisme berliku antara Hyun Bin yang merupakan tentara dari Korea Utara dengan Son Ye-jin yang merupakan pengusaha dari Korea Selatan sulit ditebak dan membuat mood banyak wanita terobok-obok. Penonton drama tersebut begitu engaged dan menantikan episode dari minggu ke minggu karena menunggu kisah cinta berliku yang penuh misteri. Kondisi yang sama juga terjadap pada mood pelaku pasar  ketika menantikan news development terkait dengan Covid-19. Apabila terdapat berita negatif seperti halnya peningkatan jumlah kasus yang terkontaminasi Covid 19, market dapat dapat turun dengan sangat tajam dalam periode waktu yang singkat. Di sisi lain, apabila terdapat perkembangan berita baik, market dapat meningkat signifikan dalam waktu harian.

Beberapa hal yang telah dijelaskan di atas dapat menjelaskan mengapa harga saham dapat turun sedemikian drastis dalam periode waktu yang sangat singkat semenjak fenomena Covid 19 mengemuka. Sebagai pelaku pasar yang rasional, kita harus dapat merumuskan langkah aksi yang tepat.  Jesse Livermore pernah mengutarakan bahwa there is time to go long, time to go short and time to go fishing. Apabila kita adalah long term investor yang hanya dapat mengambil posisi beli, maka di tengah ketidakpastian yang ada, periode ini adalah time to go fishing. Yang paling baik dilakukan saat ini adalah menunggu sampai pattern dari infected cases berhenti meningkat. Penurunan infected cases tersebut akan berdampak pada meredanya ketakutan pelaku pasar terhadap dampak dari Covid 19. Ketika hal tersebut terjadi, maka harga saham dapat kembali stabil. Kondisi tersebut merupakan titik ideal bagi rational long term investor untuk mengevaluasi rencana investasinya, sehingga analisis mengenai rasio antara harga di pasar dengan faktor intrinsik perusahaan dapat dilakukan secara benar. Namun demikian, apabila kita adalah short term trader, maka fluktuasi yang terjadi di market saat ini adalah hal yang tidak datang dua kali.

All in all, fenomena Covid 19 memang luar biasa mengobok-obok perasaan pelaku pasar sebagaimana film Crash Landing on You memorak-porandakan hati wanita. Tantangannya, jika wanita dapat sabar menunggu episode drakor tersebut dari minggu ke minggu sampai akhirnya bisa menyaksikan happy ending antara Hyun Bin dengan Son Ye-Jin di Switzerland, mengapa pelaku pasar tidak bisa sabar menunggu sampai ini semua selesai?

 

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.